Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mengakui buruknya kondisi penjara Israel dan menyebut kebijakan pengetatan perlakuan terhadap tahanan Palestina sebagai faktor pencegah perlawanan.

Dalam wawancara dengan radio 103 FM milik harian Maariv, Selasa (3/2/2026), Ben-Gvir mengatakan bahwa Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri Israel (Shin Bet), David Zini, baru-baru ini menyampaikan kepadanya bahwa kebijakan memperkeras kondisi penahanan telah memberikan efek jera.

“Zini mengatakan kepada saya, kami telah meneliti hal ini. Anda tidak membayangkan, mereka takut masuk ke penjara Ben-Gvir. Mereka tidak melakukan serangan karena penjara-penjara ini adalah neraka bagi mereka,” kata Ben-Gvir, mengutip pernyataan Kepala Shin Bet yang disampaikannya sekitar sepekan lalu.

Ben-Gvir menambahkan bahwa Zini bukan satu-satunya pejabat yang menyampaikan hal tersebut. “Bukan rahasia lagi bahwa mereka takut masuk penjara,” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan temuan laporan Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Israel, B’Tselem, yang dirilis pada Januari 2026 dan dikutip kantor berita Wafa. Laporan tersebut menyebut penjara dan pusat penahanan Israel telah berubah menjadi jaringan kamp penyiksaan sistematis terhadap tahanan Palestina.

Menurut B’Tselem, praktik tersebut berlangsung di bawah kebijakan resmi yang mencakup kekerasan fisik dan psikologis, kelaparan, penelantaran medis, serta isolasi total dari dunia luar.

Laporan itu mencatat, sejak Oktober 2023 hingga akhir Desember 2025, sebanyak 84 tahanan Palestina Syahid di dalam penjara dan pusat penahanan Israel, termasuk satu anak. Organisasi HAM lain menyebut jumlah korban mencapai sedikitnya 94 orang, ditambah enam tahanan yang Syahid selama proses interogasi Shin Bet. Israel juga dilaporkan masih menahan jenazah 80 tahanan yang Syahid.

Berdasarkan data Dinas Penjara Israel hingga akhir September 2025, jumlah tahanan Palestina mencapai 10.863 orang, terdiri atas 350 anak dan 48 perempuan.

B’Tselem menegaskan bahwa penyiksaan telah menjadi kebijakan yang sistematis dan terbuka, mencakup pemukulan berat, sengatan listrik, penggunaan anjing, gas dan granat suara, penghinaan disengaja, posisi gantung yang menyakitkan, sel isolasi, penelanjangan paksa, hingga kekerasan seksual, termasuk pemukulan organ vital dan pemerkosaan menggunakan alat.

Laporan tersebut juga menyoroti secara khusus Blok “Rakefet” di Penjara Ayalon, Ramla, sebuah fasilitas bawah tanah yang sepenuhnya tertutup dari cahaya matahari. Blok ini disebut sebagai simbol kebijakan penyiksaan dan perendahan martabat tahanan, dan diketahui kembali dioperasikan atas perintah langsung Ben-Gvir.

Sumber: Al Jazeera, Maariv

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here