Di wilayah barat Khan Younis, tenda-tenda darurat berdiri di atas puing rumah yang rata dengan tanah. Di tengah kondisi itu, kabar ditemukannya jasad seorang tentara Israel sempat memunculkan harapan yang lama tertahan di benak warga, harapan bahwa fase berikutnya dari gencatan senjata benar-benar akan dijalankan, bukan sekadar janji di atas kertas.

Setelah jasad tersebut diserahkan, sebagian warga mengaku sedikit bernapas lega. Mereka menaruh harapan besar pada tahap kedua gencatan senjata, terutama terkait pembukaan perlintasan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan peluang keluar dari kehidupan darurat menuju tingkat stabilitas paling dasar.

Seorang pengungsi di Khan Younis mengatakan kepada Al Jazeera Mubasher bahwa warga Gaza telah kelelahan oleh perang dan pengepungan bertahun-tahun. “Yang kami inginkan sekarang sederhana: hidup normal,” ujarnya. Ia menggambarkan kondisi hidup yang sudah berada di titik bencana akibat kelangkaan pangan, air, dan obat-obatan.

Ia juga mengingatkan adanya kekhawatiran bahwa Israel akan mengangkat isu baru (seperti pelucutan senjata) sebagai alasan menunda pelaksanaan fase kedua kesepakatan.

Menanggapi pernyataan Perdana Menteri Israel yang membatasi fase berikutnya pada isu pelucutan senjata, warga tersebut menilai pendekatan itu mengabaikan akar persoalan Palestina. Menurutnya, pembahasan soal senjata tak bisa dipisahkan dari solusi politik yang adil dan menjamin hak-hak rakyat Palestina.

Ia mengingatkan bahwa Palestina telah menerima solusi negara di perbatasan 4 Juni 1967. Namun, menurutnya, Israel tidak sungguh-sungguh mencari perdamaian, melainkan mempertahankan perang, terutama di Gaza yang telah diblokade sejak 2008. Ia menilai kelanjutan perang justru menguntungkan keberlangsungan pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan, warga menyebut rasa aman masih jauh dari utuh. Pelanggaran dan serangan sporadis masih terjadi. Bagi mereka, ukuran keberhasilan gencatan senjata bukan retorika politik, melainkan dampak nyata di lapangan: perlintasan dibuka, bantuan mengalir, layanan kesehatan dan pendidikan membaik.

Pengungsi itu menceritakan pengalamannya berpindah-pindah dari Jabalia ke sejumlah wilayah sebelum akhirnya menetap di Khan Younis. Saat kembali mengunjungi Jabalia, ia hanya menemukan kehancuran, sementara pasukan Israel masih berada di sejumlah area, termasuk Tel Al-Zaatar.

Harapannya kini tertuju pada pelaksanaan penuh fase kedua kesepakatan dan penarikan pasukan Israel dari seluruh Gaza, agar warga bisa kembali ke rumah mereka. Ia menegaskan, sebagai rakyat yang hidup di bawah pendudukan, bangsa Palestina tetap berpegang pada hak untuk melawan.

Bola di Tangan Israel

Warga lainnya menilai Israel telah kehilangan alasan untuk menunda kesepakatan setelah jasad tentaranya diterima. “Sekarang bola ada di tangan Israel,” ujarnya, seraya mendesak pelaksanaan inisiatif Mesir–Qatar, termasuk penarikan dari wilayah yang dikenal sebagai “garis kuning”, agar pengungsi bisa pulang.

Ia menyebut kehidupan di tenda sudah tak tertahankan, dan meminta masuknya karavan sebagai solusi sementara untuk melindungi warga dari panas ekstrem dan dingin. Ia juga mengungkapkan kesulitan pribadinya, termasuk ketiadaan air selama lebih dari sebulan. Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah menghidupkan kembali fasilitas pendidikan dan kesehatan serta membuka perlintasan, terutama bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza.

Menanggapi laporan media Israel soal pembukaan perlintasan dengan kehadiran pasukan Eropa dan staf Palestina di bawah pengawasan keamanan Israel, ia menolak skema tersebut. Menurutnya, keberadaan Israel secara langsung di perlintasan akan menjadi veto atas pergerakan warga. Ia menegaskan perlintasan seharusnya dikelola Palestina–Mesir, dengan kehadiran Eropa hanya sebagai penjamin jika memang memudahkan kehidupan warga.

Penderitaan hidup di tenda dirangkum oleh pengungsi lain dengan singkat: krisis pengungsian bermula dan berakhir di tenda. Ia menyebut tenda tak menyediakan privasi maupun martabat, dan banyak warga merasa “tirai kehidupan mereka tersingkap.”

Banyak pengungsi, katanya, siap kembali ke kampung halaman meski rumah mereka hancur. “Lebih baik mendirikan gubuk di atas reruntuhan daripada terus hidup di tenda,” ujarnya.

Dampak perang, tambahnya, masih sangat terasa, mulai dari penyebaran serangga hingga penyakit di kawasan pengungsian, seperti kutu, akibat minimnya penanganan kesehatan lingkungan.

Ia menegaskan tanggung jawab ada di tangan para aktor politik untuk menekan pelaksanaan kesepakatan. Warga kini menanti hari Kamis, yang disebut-sebut berpotensi menjadi momentum pembukaan perlintasan.

Meski merindukan keluarganya di luar Gaza, ia menegaskan tidak akan meninggalkan wilayah itu kecuali sementara. “Ini tanah kami,” katanya, “dan kami tidak akan pergi.”

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here