Detik-detik yang nyaris merenggut nyawa dialami Ahmad Zamara dan keluarganya di kawasan Al-Zarqa, timur permukiman At-Tuffah, Gaza. Saat ia mendengar suara retakan halus merayap di dinding rumah yang telah hancur diterpa serangan, ia sadar bangunan itu sedang runtuh. Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan anak-anaknya dan berlari menuju jalan. Sesampainya di tikungan, rumah itu ambruk tepat di belakang mereka, disusul rumah tetangga beberapa menit kemudian.
Zamara kembali ke wilayah itu setelah pasukan pendudukan mundur dan warga mulai pulang. Ia menemukan rumahnya rusak berat, lalu membersihkannya sebisanya, memilih tetap tinggal meskipun berbahaya karena tak ada tempat lain untuk bernaung.
Namun sebulan kemudian, sisa bangunan itu pun runtuh. Untuk kedua kalinya ia kehilangan tempat tinggal (kali ini tanpa tenda, tanpa ruang aman) dan terpaksa hidup di bawah lembaran plastik yang ia dirikan di samping reruntuhan.
Rumah yang Sekadar Menunggu Giliran
Di Al-Zarqa, puluhan rumah tampak berdiri, tetapi sejatinya hanyalah reruntuhan yang ditunda waktunya. Setiap langkah di gang-gang sempit membawa risiko. Sedikit getaran angin dapat menjatuhkan dinding, atap, atau tiang yang menggantung rapuh.
Batu-batu yang menggantung seperti anggota tubuh yang terputus, lubang-lubang besar, tiang-tiang yang nyaris runtuh, dan atap miring menjadi pemandangan sehari-hari. Begitulah kondisi kawasan itu yang terlihat selama penelusuran Al Jazeera Net: satu permukiman yang berdiri di ambang antara bertahan sehari lebih lama atau hilang dalam hitungan detik.
Di salah satu rumah itu, Hafiz Ad-Dadda tinggal bersama tiga anaknya. Sisa ruangannya hanya ditopang dua tiang dari delapan yang dulu ada. Hafiz menutup lubang-lubang besar dengan papan kayu, mencoba memanfaatkan apa pun untuk membuat tempat itu layak dihuni, meski sekadar untuk bertahan.
“Jika kami meninggalkan tempat ini, kami harus tidur di jalan, di tengah hujan dan dingin,” ujarnya. “Hidup dalam ketakutan kadang lebih ringan daripada mati di ruang terbuka.” Setiap gerakannya di rumah itu terukur; ia melangkah seperti seseorang yang tahu bahwa satu langkah salah bisa menjadi langkah terakhir. Setiap beberapa menit ia menengadah, memastikan atap masih berada di atas mereka.
Anak-anak pun hidup dalam ketakutan serupa. Mohsen, 10 tahun, bermain di sisa atap yang dulu menaungi rumah mereka. Ibunya berulang kali mengingatkan agar ia berhati-hati terhadap batu-batu yang menggantung. “Rumah kami dulu baru,” kata Mohsen. “Kami tinggal hanya beberapa hari sebelum perang, lalu harus mengungsi. Ketika kembali, rumah itu hancur kecuali dua kamar, dan kami tinggal di sana.”
Mohsen mengakui bahwa ia takut berada di tempat yang kini tampak seperti reruntuhan yang menyeramkan. Ketakutannya bertambah karena anjing-anjing liar sering berkeliaran di sekitar rumah pada malam hari, dan tanpa dinding maupun pintu yang layak, tidak ada yang menghalangi mereka.
Tinggal Karena Terpaksa
Di sudut lain, Yasser Khadra tinggal bersama 12 anggota keluarga termasuk anak-anak yatim. Rumah mereka pernah dihantam serangan hingga tiga lantai hancur, menyisakan satu ruang sempit tempat mereka berkumpul.
Ia mengaku hampir tidak pernah memejamkan mata di malam hari. “Saya takut atap itu jatuh menimpa anak-anak,” ujarnya. “Saya menunggu fajar setiap malam, seperti tanda keselamatan kecil bahwa kami masih hidup satu hari lagi.”
Namun ia juga tahu bahwa ia tak punya pilihan lain. “Setiap getaran robot militer membuat saya terkejut. Bangunan ini tak tahan sedikit pun guncangan. Tapi meninggalkan anak-anak tanpa tempat tinggal jauh lebih menyakitkan.”
Peringatan untuk Mengungsi—Tetapi ke Mana?
Pertahanan Sipil Gaza mencatat sekitar 50 bangunan di Al-Zarqa yang masih berdiri, tetapi masuk kategori “nyaris runtuh”. Di dalamnya hidup sekitar 150 keluarga yang memilih bertahan meski ada peringatan berulang.
Setelah melakukan peninjauan, mereka terkejut melihat seberapa besar kerusakan yang terjadi. “Kami sudah mengarahkan warga agar segera mengosongkan bangunan,” kata juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmud Basal. “Namun tidak ada alternatif. Tenda pun hanya tersedia untuk sebagian kecil.”
Basal mendesak organisasi internasional untuk menyelamatkan warga Gaza, menyediakan tempat yang aman terutama menjelang musim dingin saat hujan dan angin kencang meningkatkan risiko runtuhnya bangunan.
Rumah-Rumah Gaza Masih Bercerita
Rumah-rumah Gaza hari ini menyimpan kisah perang yang belum selesai. Setiap dinding yang retak membawa ingatan tentang serangan yang meluluhlantakkan wilayah itu. Setiap suara retakan baru menambah ketakutan bagi warga yang tak punya tempat lain untuk berlindung. Setiap rumah yang runtuh menyimpan cerita keluarga yang terpaksa hidup di bawah langit terbuka.
Mereka tahu tinggal di bangunan rapuh adalah risiko besar. Namun meninggalkannya sama saja dengan memasuki gelombang ketidakpastian yang lebih pahit—sebuah kematian lain yang tidak selalu terlihat.
Sumber: Al Jazeera









