Abo Jaber (42) terus memantau grup-grup berita di ponselnya ketika buldoser Israel mulai meratakan rumah-rumah di Hara Abdullah Azzam, Kamp Pengungsi Jenin, Tepi Barat utara. Sejak Kamis (27/11) ia berusaha mendekat ke rumahnya di Hara ad-Damj, kawasan yang telah empat kali mendapat ancaman pembongkaran sejak Israel melancarkan operasi Tembok Besi pada 21 Januari lalu.
Sejumlah keluarga yang diizinkan masuk ke area terdalam kamp setelah menerima pemberitahuan pembongkaran kembali berkumpul di depan gerbang besi kuning yang dipasang Israel di pintu timur kamp.
Dengan didampingi tim Bulan Sabit Merah, sekitar 24 keluarga diberi akses masuk setelah proses koordinasi dengan Otoritas Sipil Palestina, sekadar untuk mengambil barang pribadi yang mereka tinggalkan hampir 11 bulan lalu. Mereka keluar hanya dengan beberapa kantong kecil berisi pakaian, peralatan pemanas, dan sedikit perabot sederhana.
Di saat bersamaan, pasukan khusus Israel mengepung sebuah rumah di kawasan Jabal Abu Dhahir, tidak jauh dari kamp. Dua pemuda (al-Muntasir Billah Abdullah (26) dan Yusuf Assa’sa (37)) diminta menyerahkan diri. Namun, meski telah mematuhi perintah itu, pasukan Israel menembak keduanya dari jarak sangat dekat.
Kementerian Kesehatan Palestina kemudian mengumumkan keduanya gugur Syahid dan jenazahnya ditahan Israel. Dua anak berusia 14 tahun juga terluka tembakan di bagian paha dan dilarikan ke RS Jenin.
Kamp Menjadi Reruntuhan
Dalam penuturannya kepada Al Jazeera, Abo Jaber menggambarkan kondisi Jenin sebagai “kehancuran total.” Bulan-bulan operasi perusakan oleh buldoser Israel membuat lorong-lorong kamp rata tanah, rumah-rumah runtuh, dan sejumlah kawasan berubah bentuk sepenuhnya.
“Saya merasakan sesak yang tak bisa dijelaskan,” ujarnya lirih. “Rasa sakit karena diusir tak sebanding dengan melihat kamp tempat saya tumbuh kini hilang. Setelah hampir setahun menjauh dari rumah, kami ‘dihadiai’ dengan kehancuran.”
Warga menegaskan bahwa kerusakan yang dilakukan Israel jauh lebih besar daripada yang diumumkan secara resmi karena mereka dilarang memasuki area tersebut, dan jurnalis dicegah melakukan peliputan.
M, pemuda 24 tahun dari Hara al-Hawashin, yang rumahnya mungkin termasuk daftar baru pembongkaran, mengatakan ia gagal mengajukan izin masuk. Ia menggambarkan 22 ribu pengungsi dari kamp dan sekitarnya hidup dalam “ketidakberdayaan” setiap kali Israel mengumumkan daftar baru rumah yang akan dihancurkan.
“Israel mungkin menyebut 20 atau 30 rumah. Tapi gambar yang keluar dari dalam kamp menunjukkan bahwa kerusakan jauh lebih besar,” katanya. “Kalau pembongkaran berlangsung seperti ini, kamp ini bisa lenyap. Kami bahkan tak tahu apa masa depan kami jika pasukan Israel pergi, jika mereka benar-benar akan pergi.”
Kamp-Kamp yang Dikosongkan
Pekan lalu, Israel mengumumkan rencana menghancurkan 12 rumah secara total dan 11 rumah secara sebagian, tambahan dari sekitar 600 rumah yang telah dihancurkan sejak operasi militer dimulai. Berdasarkan peta yang dirilis Israel, rumah-rumah yang akan dibongkar terkonsentrasi di Hara Abdullah Azzam, Jura ad-Dhahab, dan sebagian Hara al-Hawashin.
Pemerintah Kabupaten Jenin mencatat Israel telah membangun sekitar 15 jalan baru di dalam kamp yang luasnya kurang dari setengah kilometer persegi. Kerugian langsung yang tercatat hingga Juli lalu mencapai 30 juta dolar, sementara total kerugian di tingkat kabupaten mencapai 300 juta dolar.
Sejak serangan Israel dimulai pada akhir Januari, 59 warga Jenin telah gugur Syahid.
Direktur UNRWA, Roland Friedrich, mengungkapkan bahwa Kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Syams kini benar-benar dikosongkan pasukan Israel. Sebanyak 32 ribu warganya tetap berada dalam kondisi pengungsian paksa. “Kamp-kamp yang dulu penuh kehidupan kini berubah menjadi kota-kota hantu,” ujarnya.
UNRWA mencatat bahwa perintah pembongkaran massal yang dikeluarkan pada Maret dan Juni telah menargetkan lebih dari 190 rumah, selain penghancuran 20 bangunan melalui teknik peledakan jarak jauh.
Friedrich menegaskan bahwa penghancuran sistematis ini bertentangan dengan hukum internasional dan hanya memperpanjang kontrol militer Israel di kamp-kamp tersebut.
“Kamp-kamp ini butuh dibangun kembali, bukan dihancurkan lagi,” katanya. “Warganya harus bisa pulang, membangun hidup, dan tidak dibiarkan terjebak dalam pengungsian berkepanjangan.”
Sumber: Al Jazeera










