GAZA — Sedikitnya enam warga Palestina, termasuk seorang anak-anak, syahid dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan udara yang dilancarkan militer Israel di kawasan Pelabuhan Gaza, Kota Gaza.

Menanggapi jet tempur yang menghujam area publik tersebut, Kelompok Perlawanan Islam (Hamas) mengutuk keras tindakan Israel. Hamas menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja merusak upaya negosiasi dan meruntuhkan peluang gencatan senjata demi melanggengkan agresi.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menegaskan bahwa tindakan militer Israel yang menyasar sebuah kedai kopi di pelabuhan Gaza merupakan bentuk eskalasi berdarah yang disengaja terhadap warga sipil yang tak berdosa.

“Pembantaian baru ini membuktikan ketegaran pemerintah penjahat perang Netanyahu untuk melanjutkan aksinya, sekaligus menggagalkan seluruh ikhtiar yang bertujuan menegakkan gencatan senjata dan menjalankan kesepakatan,” bunyi pernyataan resmi Hamas.

Hamas menyoroti bahwa momentum serangan yang meluncur tepat setelah pertemuan intensif di Kairo mengonfirmasi niat buruk Netanyahu. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mendobrak skema perdamaian regional maupun internasional, termasuk rencana pelaksanaan kesepakatan yang dimediasi pihak AS dan regional.

Hamas kembali menegaskan komitmen serta tanggung jawabnya untuk mensukseskan kesepakatan damai. Mereka mengimbau pihak mediator dan Pemerintah Amerika Serikat untuk bersikap tegas memaksa pemerintah Israel mematuhi poin-poin kesepakatan dan menghentikan manuver Netanyahu yang terus menjegal proses perdamaian.

Klaim Target Militer Israel

Di sisi lain, Militer Israel (IDF) mengklaim bahwa serangan udara di kawasan pantai utara Jalur Gaza tersebut ditujukan kepada para petinggi Hamas.

“Kami menyasar sejumlah pimpinan Hamas dalam serangan di Kota Gaza guna meredam ancaman terhadap pasukan kami,” tulis pernyataan resmi militer Israel. Pihaknya mengklaim para komandan yang disasar sedang merencanakan operasi militer yang mengancam keselamatan tentara mereka.

Sumber keamanan yang dikutip media-media Israel mengklaim ada empat perwira Hamas yang menjadi sasaran, salah satunya menjabat sebagai komandan kompi. Pada hari yang sama, militer Israel juga mengklaim telah membunuh seorang anggota kelompok Jihad Islam di Khan Younis, Gaza selatan.

Eskalasi ini menambah panjang daftar pelanggaran gencatan senjata yang berlangsung sejak Oktober 2025 lalu. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat, berbagai pelanggaran yang dilakukan militer Israel selama periode gencatan senjata telah memakan korban jiwa sedikitnya 1.265 warga Palestina dan melukai 4.198 orang lainnya.

Perjanjian gencatan senjata itu sendiri dicapai setelah perang dahsyat yang membakar Gaza sejak Oktober 2023. Perang berkepanjangan itu telah menelan lebih dari 73 ribu jiwa melayang dan lebih dari 174 ribu orang luka-luka, serta menghancurkan hingga 90 persen infrastruktur sipil dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.

Kalkulasi Politik dan Tekanan Diplomatik

Kondisi di lapangan pascaserangan memperlihatkan kepanikan warga. Foto dan rekaman dari lokasi kejadian menunjukkan kepulan asap dari dua roket yang dilepaskan pesawat nirawak Israel, menyisakan puing-puing, potongan tubuh korban, dan kepanikan warga lanjut usia yang terluka di sekitar lokasi kejadian.

Analis politik menilai serangan di pelabuhan ini mengandung pesan politik yang kuat dari Tel Aviv. Jurnalis di lapangan mengamati bahwa tindakan militer Israel ini merupakan penerjemahan langsung atas hasil pertemuan Netanyahu dengan utusan AS, Jared Kushner, dan perwakilan Dewan Perdamaian.

Melalui tindakan lapangan ini, Israel seolah ingin menegaskan posisinya bahwa mereka tetap mempertahankan opsi militer penuh, termasuk operasi pembunuhan terarah (targeted assassination), serta menuntut perlucutan senjata total sebagai syarat mutlak sebelum melangkah ke proses rekonstruksi.

Di samping kalkulasi diplomasi luar negeri, manuver keras Netanyahu juga tak lepas dari dinamika politik dalam negeri Israel. Menjelang pemilihan umum, Netanyahu diterpa tekanan elektoral ketat dari rival utamanya, Gadi Eisenkot. Langkah impulsif militer di Gaza, Lebanon, maupun Suriah dipandang sebagai upaya Netanyahu menarik simpati pemilih sayap kanan ekstrem guna mengamankan kursi kekuasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here