Perlawanan di pos militer Israel di pintu masuk barat Kota Hebron, Tepi Barat, pada Jumat pagi, menewaskan dua tentara Israel dan melukai empat lainnya. Kontak tembak berlangsung lebih dari 20 menit dan berakhir dengan syahidnya dua pejuang. Setelah aksi perlawanan itu, militer Israel memperluas operasi di sejumlah wilayah, sementara para pemimpin politik Israel mengeluarkan pernyataan keras. Faksi-faksi Palestina, sebaliknya, memuji perlawanan tersebut.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober 2026. Situasi keamanan di Tepi Barat pun menjadi sorotan di tengah persaingan politik yang semakin tajam.

Berikut lima pertanyaan untuk memahami perlawanan di Hebron dan dampaknya.

1. Di mana perlawanan terjadi?

Militer Israel menyatakan telah membunuh dua orang yang melakukan perlawanan di dekat Hebron. Perlawanan itu menewaskan dua tentara Israel dan melukai empat lainnya.

Situs berita Israel, Walla, melaporkan bahwa seluruh korban luka merupakan tentara dari satu batalion cadangan di bawah Komando Pertahanan Dalam Negeri. Sementara itu, koresponden Channel 14 menyebut tentara dari Batalion Ari sedang bertugas di pos pemeriksaan tersebut. Mereka disebut baru pertama kali diterjunkan dalam penugasan operasional.

Koresponden Al Jazeera di Hebron, Muhammad al-Atrash, melaporkan bahwa perlawanan terjadi di dekat pos pemeriksaan Farsh al-Hawa, di pintu masuk barat kota. Namun, Channel 14 menyebut sasaran perlawanan adalah menara militer di dekat permukiman ilegal Telem.

Pos pemeriksaan itu merupakan salah satu titik militer utama yang mengelilingi Hebron. Bagi warga Palestina, keberadaannya bukan sekadar pembatas mobilitas. Menurut koresponden Al Jazeera, pos tersebut juga menjadi simbol penghinaan yang mereka alami setiap hari, ditambah penutupan berulang yang menghambat perjalanan dan aktivitas warga.

2. Bagaimana perlawanan berlangsung?

Sejumlah media Israel melaporkan bahwa kedua pelaku tiba menggunakan mobil berpelat kuning, yang lazim digunakan kendaraan berregistrasi Israel. Salah seorang membawa senapan jenis M4, sedangkan yang lain membawa pistol.

Menurut koresponden Channel 14, perlawanan berlangsung sekitar pukul 07.20 waktu Palestina. Tembakan kemudian memicu kontak senjata dengan pasukan Israel selama lebih dari 20 menit.

Surat kabar Yedioth Ahronoth mengonfirmasi lamanya baku tembak tersebut. Media itu menyebut proses evakuasi korban terlambat karena pertempuran berlangsung cukup lama.

Walla, dengan mengutip hasil penyelidikan awal, melaporkan bahwa kedua pelaku diduga menyergap pasukan Israel. Mereka melepaskan tembakan ketika para tentara mendekati posisi mereka.

Militer Israel kemudian mengidentifikasi kedua pelaku sebagai Hamouda dan Firas al-Ja’bah, warga Kota Hebron. Pasukan Israel selanjutnya menyerbu rumah kedua pelaku serta rumah sejumlah orang lain yang mereka sebut sebagai pihak yang dicurigai terkait dengan perlawanan itu.

Petugas medis darurat Israel dari Magen David Adom, Tzuriel Edri, mengatakan timnya tiba ketika suara tembakan masih terdengar. Mereka terpaksa menggunakan ambulans berlapis baja untuk mengevakuasi korban luka.

Sejumlah media Israel menayangkan rekaman yang memperlihatkan rentetan tembakan selama perlawanan. Beberapa rekaman juga menampilkan sejumlah senjata yang menurut media tersebut digunakan oleh kedua pelaku. Channel 14 turut menyiarkan gambar lokasi kejadian yang memperlihatkan selongsong peluru berserakan dan sebuah mobil yang diklaim milik salah seorang pelaku.

Lembaga keamanan Israel menduga kedua penyerang merencanakan perlawanan yang lebih besar. Namun, menurut penilaian mereka, pos pemeriksaan yang didirikan pasukan Israel menggagalkan rencana tersebut.

Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir mengatakan kedua pelaku membawa amunisi dalam jumlah besar yang dipersiapkan untuk perlawanan berskala lebih luas. Ia menyatakan respons cepat tentara mencegah perlawanan yang lebih berbahaya. Pernyataan itu dilaporkan Channel 12 dan i24NEWS Israel.

3. Bagaimana respons Netanyahu dan pejabat Israel?

Setelah perlawanan terjadi, media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggelar rapat keamanan darurat. Ia juga meminta partainya membatalkan seluruh kegiatan kampanye pemilu.

Netanyahu memerintahkan aparat keamanan memberlakukan pengepungan terhadap Kota Hebron dan menutup seluruh wilayah Tepi Barat. Ia mengancam akan memburu anggota Hamas dan pihak-pihak yang disebut berada di belakang mereka, di mana pun dan kapan pun.

Saat mengunjungi Hebron, Netanyahu mengatakan militer akan menyerbu kawasan tempat kedua pelaku berasal dan mengevakuasi penduduknya. Pasukan juga akan memasuki seluruh rumah untuk mencari senjata. Ia menyebut langkah tersebut akan meniru operasi yang sebelumnya dilakukan militer Israel di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara.

Netanyahu mengatakan pasukan Israel telah mengepung Hebron dan Kota Halhul. Pemerintah, ujarnya, juga mempertimbangkan perluasan operasi ke wilayah lain.

Ia mengklaim militer Israel telah melancarkan operasi besar dan kuat di Tepi Barat, yang menurutnya belum pernah terjadi dalam skala serupa sejak perang 1967.

Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu membanggakan kebijakan pembangunan permukiman Israel. Ia mengatakan pemerintahannya telah mendirikan lebih dari 100 permukiman dan pos permukiman baru, serta berjanji akan melanjutkan pembangunan.

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir juga memanfaatkan perlawanan tersebut untuk kembali menyuarakan pendekatan keamanan garis keras. Saat tiba di lokasi, ia menyebut perlawanan itu sebagai pengingat berdarah dan keras tentang mahalnya harga yang harus dibayar akibat kesalahan dalam menentukan konsep keamanan.

Ben-Gvir memperingatkan kemungkinan terulangnya peristiwa 7 Oktober di Tepi Barat dan menyerukan penghancuran total apa yang ia sebut sebagai infrastruktur terorisme.

Ia menggambarkan perlawanan itu sebagai pagi yang berat. Menurutnya, kejadian tersebut kembali membenarkan pandangan yang selama empat tahun terakhir ia sampaikan dalam rapat kabinet, yakni perlunya membubarkan Otoritas Palestina.

Ben-Gvir menegaskan Israel tidak dapat menerima keberadaan apa yang ia sebut sebagai negara teror di Tepi Barat. Ia juga meminta agar warga Palestina dilarang menggunakan jalan-jalan yang dipakai bersama oleh para pemukim Israel.

Menurut Ben-Gvir, kebebasan bergerak warga Palestina tidak lebih penting daripada hak hidup warga Israel.

Sementara itu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memerintahkan penghancuran bangunan-bangunan Palestina di sekitar lokasi perlawanan di Hebron. Ia mengatakan pembongkaran akan segera dimulai sesuai instruksinya.

Pernyataan para pejabat Israel tersebut memperlihatkan bahwa perlawanan di Hebron segera diikuti ancaman perluasan operasi militer, pembatasan mobilitas warga Palestina, dan penghancuran bangunan di wilayah tersebut.

4. Bagaimana tanggapan faksi-faksi Palestina?

Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, memuji perlawanan di Hebron dan menyebutnya sebagai operasi berkualitas tinggi. Dalam pernyataan pers, Hamas menyebut perlawanan itu sebagai pesan kepada Israel bahwa perlawanan akan terus berlanjut hingga penjajah terusir dari tanah Palestina dan tempat-tempat sucinya.

Hamas menyatakan perlawanan tersebut merupakan respons yang dianggap wajar dan sah terhadap apa yang disebutnya sebagai kejahatan serta perlawanan berkelanjutan terhadap warga Palestina, tanah mereka, dan tempat-tempat suci di Tepi Barat serta Al-Quds yang diduduki. Hamas juga mengaitkannya dengan berlanjutnya perang di Jalur Gaza.

Hamas menyampaikan belasungkawa atas gugurnya kedua pelaku dan menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan meletakkan senjata sebelum agresi dihentikan dan penjajahan berakhir.

Gerakan itu menyerukan mobilisasi menyeluruh kepada warga Palestina di kota-kota, desa-desa, dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. Hamas juga menyerukan serangan terhadap tentara Israel dan para pemukim.

Juru bicara Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, turut memuji operasi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan heroik. Melalui kanal Telegram, ia mengajak warga Palestina bangkit melawan penjajah demi membela Masjid Al-Aqsa dan para tahanan Palestina, menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi terhadap Tepi Barat dan kamp-kamp pengungsinya, serta mendukung warga Jalur Gaza.

Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) juga memuji perlawanan itu. Organisasi tersebut menilainya sebagai respons yang wajar terhadap kejahatan penjajah dan menyerukan pembentukan komite perlindungan rakyat di Tepi Barat untuk menghadapi perlawanan para pemukim.

Sementara itu, Jihad Islam Palestina menyebut perlawanan tersebut sebagai pesan yang ditulis dengan darah. Dalam pernyataannya, kelompok itu mengatakan bahwa respons terhadap kejahatan penjajah dan para pemukim akan terus berlangsung di lapangan.

Jihad Islam menuduh para pemukim menyebarkan pembunuhan, penghancuran, dan pembangunan pos-pos permukiman di berbagai wilayah Tepi Barat, sekaligus berupaya melakukan Yahudisasi terhadap Masjid Al-Aqsa.

Kelompok itu menilai pemerintah Israel, meski memberlakukan penggerebekan, penutupan wilayah, dan penangkapan, tetap menyadari bahwa warga Palestina mampu menembus langkah-langkah pengamanan dan melancarkan perlawanan yang menyakitkan terhadap sistem keamanannya.

Jihad Islam juga memperingatkan bahwa seruan pengusiran warga Palestina dan Yahudisasi tempat-tempat suci tidak akan berlalu tanpa respons. Kelompok tersebut menuduh para pemimpin Israel memanfaatkan isu-isu itu dalam persaingan pemilu.

Jihad Islam turut menyampaikan belasungkawa atas gugurnya kedua pelaku dan menyerukan peningkatan berbagai bentuk perlawanan terhadap tentara serta pemukim Israel. Mereka juga mengajak warga Palestina menentang rencana pengusiran dan aneksasi wilayah.

5. Apa dampaknya terhadap pemilu Israel?

Perlawanan di Hebron terjadi di tengah peningkatan kesiagaan keamanan Israel, hanya beberapa hari sebelum pemilih mendatangi tempat pemungutan suara pada Selasa, 27 Oktober 2026, untuk memilih anggota Knesset ke-26.

Pemilu kali ini dipandang menentukan bagi masa depan politik Israel. Pemungutan suara berlangsung di tengah dampak operasi 7 Oktober, polarisasi politik dalam negeri yang tajam, serta kelelahan setelah tiga tahun perang yang meluas ke tujuh front.

Walla melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Israel Israel Katz sebelumnya telah memerintahkan militer meningkatkan kesiagaan ke tingkat tertinggi menjelang pemilu. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi kemungkinan perlawanan yang bertujuan mengganggu proses pemungutan suara.

Langkah pengamanan itu mencakup larangan bagi tentara meninggalkan pangkalan, penguatan pusat-pusat operasi, perluasan pengumpulan informasi intelijen, serta peningkatan kesiapan pasukan yang ditempatkan di perbatasan.

Otoritas Israel khawatir perlawanan dapat terjadi sebelum atau selama pemilu dan memengaruhi jalannya pemungutan suara.

Dalam konteks yang sama, Channel 14 melaporkan bahwa Netanyahu dan Kepala Staf Militer Israel telah memerintahkan pemberlakuan pengepungan menyeluruh terhadap Tepi Barat. Langkah itu setidaknya akan berlangsung hingga pemilu selesai.

Namun, situasi keamanan di wilayah tersebut juga memunculkan kekhawatiran di kalangan aparat Israel sendiri.

Surat kabar Haaretz mengutip seorang sumber keamanan yang menyatakan bahwa militer Israel, badan keamanan dalam negeri Shin Bet, dan kepolisian telah kehilangan kendali atas situasi di Tepi Barat. Sumber itu mengatakan siapa pun yang mengklaim keadaan masih terkendali sedang berbohong.

Haaretz juga melaporkan bahwa aparat keamanan Israel khawatir perlawanan para pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat akan meningkat setelah pemilu.

Perlawanan di Hebron dengan demikian berlangsung di tengah dua tekanan sekaligus: meningkatnya ketegangan di lapangan dan persaingan politik menjelang pemungutan suara. Sementara pemerintah Netanyahu merespons dengan pengepungan, operasi militer, dan ancaman penghancuran bangunan, pernyataan para pejabat keamanan menunjukkan bahwa situasi di Tepi Barat masih menjadi persoalan serius bagi Israel.

Sumber: Al Jazeera dan media Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here