Dua tahun setelah kehilangan keluarganya dalam perang di Gaza, Fadi Al-Baba akhirnya berdiri di saf terdepan untuk menyalatkan istri dan empat anak kembarnya. Bukan peti jenazah yang ada di hadapannya, melainkan satu kantong putih berisi sisa-sisa jasad yang baru berhasil dievakuasi dari reruntuhan rumah mereka, yang hancur akibat serangan militer Israel.

Keluarga itu tewas dalam satu waktu. Namun proses evakuasi dan identifikasi jenazah tertunda berbulan-bulan di tengah kehancuran infrastruktur dan keterbatasan akses. Baru setelah dua tahun, sisa-sisa tubuh mereka ditemukan dan dimakamkan secara layak.

Kisah Al-Baba menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang empati sekaligus kemarahan. Sejumlah warganet Palestina menyebut peristiwa ini sebagai potret paling telanjang dari luka panjang warga Gaza, kehilangan yang tak selesai ketika ledakan berhenti, melainkan terus berlanjut dalam penantian tanpa kepastian.

Menurut sejumlah unggahan, Al-Baba menanti bertahun-tahun untuk memiliki anak. Ia kemudian dikaruniai empat bayi kembar sekaligus. Dalam satu serangan, seluruh harapan itu sirna bersama istrinya. Dua tahun berlalu, tetapi duka tak menyusut. Upacara salat jenazah yang digelar belakangan justru menegaskan bahwa perang menyisakan trauma yang tak mengenal tenggat waktu.

Seorang pengguna media sosial menulis, “Ada luka yang tak bisa ditutup oleh waktu.” Yang lain menyebut, salat jenazah atas sisa tulang-belulang yang hancur itu menjadi simbol pahit tentang bagaimana warga sipil menanggung dampak perang, bahkan setelah sorotan kamera dan pemberitaan mereda.

Beberapa aktivis menegaskan, kisah Fadi Al-Baba bukan kasus tunggal. Di Gaza, ribuan keluarga mengalami nasib serupa: kehilangan orang-orang tercinta di bawah reruntuhan, tanpa kesempatan berpamitan, tanpa kepastian kapan jasad bisa dimakamkan. Perang, dalam konteks ini, tidak berhenti pada angka korban. Ia berlanjut dalam bentuk penantian panjang, pemakaman tertunda, dan kantong-kantong putih yang menjadi saksi sunyi kehancuran sebuah keluarga.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here