Situasi di Tepi Barat kembali memanas. Seorang warga Palestina dilaporkan syahid, Kamis (10/4/2026) dini hari, setelah ditembak pemukim Israel dalam bentrokan di wilayah Tubas, utara Tepi Barat. Pada waktu yang hampir bersamaan, pasukan penjajah Israel melancarkan penangkapan di sejumlah kota, termasuk Nablus dan Ramallah.

Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban sebagai Alaa Khaled Fares Sbeih. Ia ditembak dalam bentrokan yang terjadi di sekitar pos permukiman ilegal yang didirikan pemukim di antara Desa Tayasir dan Al-Aqaba.

Pejabat urusan permukiman di Tubas dan Lembah Yordan Utara, Mutaz Bisharat, menyebut kondisi di lapangan masih tegang. “Sejumlah besar pemukim berkumpul, dengan perlindungan militer Israel,” ujarnya. Ia menambahkan, militer telah menetapkan wilayah Tayasir dan Al-Aqaba sebagai zona aktivitas keamanan.

Jenazah korban hingga kini masih ditahan oleh militer Israel.

Di saat yang sama, pasukan Israel menggelar operasi militer skala luas di kawasan tersebut. Sejumlah rumah warga digeledah, dengan dukungan alat berat dan pengerahan pasukan dalam jumlah besar.

Beberapa hari terakhir, Tayasir memang menjadi titik eskalasi. Tim jurnalis CNN bahkan dilaporkan sempat diserang tentara Israel saat meliput pembangunan pos permukiman di dekat desa itu. Rekaman yang beredar menunjukkan upaya aparat menghalangi pengambilan gambar. Militer Israel kemudian mengumumkan penangguhan sementara aktivitas satu unit cadangan yang terlibat dalam insiden tersebut.

Di lokasi yang sama, delapan pemuda Palestina dilaporkan ditangkap aparat.

Data Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina mencatat, sepanjang 28 Februari hingga 28 Maret lalu, pemukim melakukan 443 serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka. Serangan-serangan itu menewaskan 10 warga Palestina, merusak lahan dan tanaman, memicu kebakaran, serta membuka jalan bagi pendirian 14 pos permukiman baru.

Penangkapan Meluas

Di wilayah lain, operasi penangkapan juga terjadi. Di Ramallah dan Al-Bireh, pasukan Israel menangkap tiga anak dan seorang pemuda dari Kamp Jalazone, setelah menggerebek rumah-rumah warga dan mengacak-acak isinya.

Sementara di Nablus, seorang perempuan ditangkap dalam penggerebekan dini hari. Saksi mata menyebut seorang warga juga dipukuli saat operasi berlangsung.

Sumber lokal menyebutkan, sejumlah kendaraan militer memasuki wilayah timur kota, meliputi Jalan Al-Quds, kawasan sekolah, hingga Kamp Balata. Rumah-rumah warga digeledah, sebelum aparat menangkap seorang perempuan bernama Ruba Qamhiyah. Operasi serupa juga terjadi di desa Qusra, Awarta, dan Zawata.

Al-Aqsa Kembali Disasar

Di tengah eskalasi di daratan Tepi Barat, situasi di Al-Quds juga memanas. Sejumlah pemukim, dengan pengawalan polisi Israel, kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis pagi.

Tidak hanya itu, durasi waktu masuk diperpanjang secara signifikan. Dalam beberapa kasus, aktivitas di dalam kompleks mencakup nyanyian dan ritual Talmud, yang dilakukan di pelataran masjid di bawah pengamanan aparat.

Pemerintah daerah Al-Quds menyebut langkah ini sebagai eskalasi serius yang mengancam status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Perubahan jam kunjungan menjadi salah satu indikatornya, dimulai lebih awal dari pukul 06.30 pagi, dari sebelumnya pukul 07.00.

Menurut otoritas setempat, kelompok yang disebut “organisasi kuil” mendorong penambahan durasi kunjungan hingga setengah jam. Dengan perubahan ini, total waktu akses mencapai 6,5 jam per hari, dari pukul 06.30 hingga 11.30, lalu dilanjutkan pukul 13.30 hingga 15.00.

Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari upaya mempercepat penerapan pembagian waktu di kompleks Al-Aqsa, terutama setelah masjid itu kembali dibuka usai penutupan selama 40 hari oleh otoritas Israel.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here