Menjelang Idulfitri, Gaza kembali berdiri di tepi jurang yang pernah mereka rasakan sebelumnya, kelaparan.

Di pasar-pasar yang dulu riuh, kini yang tersisa hanyalah rak kosong dan angka-angka harga yang melonjak di luar nalar. Warga menatap barang yang tak lagi terjangkau, sementara kebutuhan pokok berubah menjadi kemewahan yang sulit disentuh.

Sejak pecahnya konflik dengan Iran, otoritas penjajah Israel menutup sebagian besar perlintasan. Arus barang dan bantuan dipusatkan hanya pada satu jalur, membuat distribusi tersendat. Lembaga internasional pun mulai mengingatkan, jika pola “tetesan bantuan” ini terus berlangsung, Gaza bisa kembali masuk ke fase kelaparan yang lebih luas.

Dalam peringatan terbarunya, Euro-Med Human Rights Monitor menilai kebijakan ini bukan sekadar pembatasan logistik. Mereka menyebutnya sebagai bagian dari strategi yang lebih besar, penggunaan kelaparan sebagai alat dalam perang terhadap warga sipil Gaza.

Dalam pernyataannya, lembaga itu menegaskan bahwa Israel memanfaatkan perhatian dunia yang kini tersedot ke konflik regional untuk memperketat blokade. Pada hari-hari awal perang, seluruh perlintasan ditutup. Ketika satu jalur dibuka kembali, jumlah truk yang diizinkan masuk justru dipangkas.

Dampaknya terasa cepat: krisis kemanusiaan kian dalam, sementara luka lama belum sempat pulih.

Keluhan dari Dalam: Harga Melonjak, Makanan Menghilang

Peringatan tak hanya datang dari laporan resmi. Di ruang digital, suara warga Gaza mengalir deras, lebih jujur, lebih mentah.

Mereka bercerita tentang harga sayuran yang melonjak hingga 10 dolar untuk beberapa jenis. Daging, ayam, dan telur perlahan menghilang dari pasar.

Bagi banyak keluarga, menyediakan satu kali makan sehari pun kini menjadi perjuangan.

“Anak-anak tidur dalam keadaan lapar,” tulis seorang warga. “Dunia sibuk seolah kami tak ada.”

Suara lain menggambarkan tekanan yang semakin menyesakkan: harga pangan berubah menjadi “monster” yang menggerogoti kehidupan sehari-hari. Mereka yang sebelumnya masih bisa berjuang menyediakan makanan, kini berdiri tanpa daya di hadapan anak-anak yang kelaparan.

Kesaksian lain menyebut kondisi ini bukan lagi sekadar mahalnya harga atau kesulitan ekonomi sementara. Ini adalah kelaparan yang nyata, perlahan, tapi pasti.

“Ada kota yang didorong menuju kelaparan, sementara dunia memilih diam,” tulis seorang pengguna. “Jika masih ada nurani, bicaralah tentang Gaza. Diam di hadapan kelaparan adalah kejahatan.”

Indikasi Krisis yang Semakin Nyata

Pengamatan di lapangan menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: permintaan meningkat, pasokan menyusut.

Kombinasi ini mendorong harga melonjak tajam dan membuat banyak barang pokok keluar dari jangkauan masyarakat.

Sejumlah warga menilai kondisi ini sebagai tanda awal kelaparan yang lebih luas, bukan lagi sekadar tekanan ekonomi, tetapi krisis pangan yang mulai mengakar.

Pada 3 Maret lalu, otoritas Israel sempat membuka kembali perlintasan Kerem Abu Salem untuk jumlah terbatas bahan bakar dan bantuan yang masuk melalui Mesir dan Israel. Namun distribusi dari Tepi Barat dan Yordania sempat tertunda hingga beberapa hari kemudian.

Meski sebagian aktivitas impor kembali berjalan, volumenya tetap jauh di bawah kebutuhan. Bahkan sebelumnya, jumlah yang masuk hanya sekitar 40 persen dari kesepakatan dalam gencatan senjata.

Artinya, pasokan yang datang sejak awal memang belum cukup, dan kini semakin menyusut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here