GAZA – Persiapan menghadapi musim dingin di Jalur Gaza tidak lagi sebatas membeli pakaian tebal, selimut, atau memperbaiki rumah agar tetap hangat. Bagi ribuan warga Palestina, musim dingin justru menjadi perjuangan sehari-hari untuk mendapatkan perlindungan paling dasar dari hujan, angin, dan banjir.
Setelah kehilangan rumah akibat genosida, banyak keluarga terpaksa tinggal di tenda-tenda rapuh yang tak lagi mampu melindungi mereka dari cuaca ekstrem. Dalam kondisi minimnya perlengkapan pengungsian, warga Gaza berusaha bertahan dengan berbagai cara seadanya.
Lumpur digunakan untuk menutup celah dinding rumah yang rusak. Karung tepung diisi pasir lalu disusun di sekeliling tenda untuk menghalangi air hujan. Sementara itu, besi yang ditemukan di reruntuhan bangunan dimanfaatkan untuk memperkuat kerangka tenda agar tidak roboh diterjang angin.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bagaimana warga Gaza berusaha melindungi diri dengan apa pun yang tersedia. Namun, di balik kreativitas itu, tersimpan kenyataan pahit: mereka tidak memiliki alternatif hunian yang layak dan kekurangan perlengkapan dasar untuk menghadapi musim dingin.
Lumpur, Kembali ke Cara Bertahan yang Primitif
Genosida telah mengubah banyak aspek kehidupan sehari-hari warga Gaza. Sebagian penduduk kini terpaksa menggunakan lumpur untuk menutup retakan dan celah pada dinding rumah yang rusak, sekaligus memperbaiki bagian bangunan yang masih bisa diselamatkan agar air hujan tidak masuk ke dalam.
Penggunaan lumpur sebagai bahan perbaikan memperlihatkan betapa jauhnya kondisi warga dari kebutuhan dasar yang semestinya tersedia. Alih-alih menggunakan semen, bahan kedap air, dan perlengkapan perbaikan bangunan, mereka harus mengandalkan solusi sementara yang tidak menjamin perlindungan memadai.
Masalah yang sama, bahkan lebih berat, dialami para pengungsi yang tinggal di tenda. Terpal plastik yang robek tidak mampu bertahan menghadapi angin kencang. Tanah di bawah tenda berubah menjadi lumpur ketika hujan turun, sementara air merembes ke tempat tidur, selimut, pakaian, dan sedikit barang yang masih dimiliki keluarga.
Dalam situasi seperti itu, hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Ia menjadi ancaman langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan hidup para pengungsi.
Karung Tepung Beralih Menjadi Penghalang Air
Salah satu cara yang digunakan warga untuk menghadapi banjir telah didokumentasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Karung tepung kosong diisi pasir, kemudian disusun mengelilingi tenda untuk membentuk penghalang agar air hujan tidak masuk.
Ahmad Al-Omari, yang bersama sejumlah pemuda mengisi karung-karung bekas tepung dengan pasir, menceritakan bagaimana fungsi benda tersebut berubah di tengah krisis.
Karung-karung itu sebelumnya digunakan untuk membawa tepung yang disalurkan Program Pangan Dunia (WFP). Kini, setelah kosong, karung tersebut dimanfaatkan sebagai alat untuk melindungi tempat tinggal sementara dari air.
Al-Omari mengingatkan adanya ironi dalam penggunaan karung tersebut. Sebelumnya, karung tepung menjadi sarana mendapatkan makanan di tengah risiko dan kesulitan distribusi bantuan. Sekarang, benda yang sama justru digunakan untuk menahan air hujan agar tidak masuk ke tenda.
Perubahan fungsi karung tepung itu menggambarkan kerasnya kehidupan warga Gaza. Barang yang sebelumnya berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan pangan kini menjadi bagian dari perlengkapan bertahan menghadapi musim dingin, ketika alat perlindungan dasar tidak tersedia.
Besi dari Reruntuhan untuk Memperkuat Tenda
Di Khan Younis, sejumlah keluarga memanfaatkan besi yang mereka temukan di antara reruntuhan rumah untuk memperkuat kerangka tenda. Mereka berharap struktur tambahan itu dapat membantu tempat tinggal sementara bertahan menghadapi angin dan hujan.
Muhammad Barhoum bersama anak-anaknya menggunakan batang besi hasil pengambilan dari reruntuhan untuk memperkuat tenda mereka di kawasan Al-Mawasi. Keluarga tersebut telah berulang kali mengalami banjir pada musim dingin sebelumnya.
Barhoum mengatakan kawasan tempat mereka tinggal selalu terendam setiap musim dingin akibat hujan deras. Karena itu, tahun ini keluarganya mencoba memperkuat tenda dengan besi, berharap kondisi mereka tidak separah musim sebelumnya.
Namun, upaya tersebut juga mengandung risiko. Pengambilan besi dilakukan di tengah reruntuhan bangunan yang mungkin tidak stabil. Selain itu, masih ada kemungkinan warga menemukan sisa-sisa bahan peledak atau material berbahaya dari genosida.
Warga menghadapi situasi yang ironis: mereka menggunakan sisa-sisa rumah yang hancur untuk melindungi diri dari musim dingin, meskipun proses mengambil material tersebut justru dapat mengancam keselamatan mereka.
Tinggal di Pantai, Takut Banjir Kembali Menghantui
Upaya melindungi diri dari musim dingin tidak hanya dilakukan pengungsi di kawasan permukiman. Keluarga yang terpaksa mendirikan tenda di sepanjang pantai juga menghadapi ancaman yang lebih besar, karena hujan, gelombang laut, dan angin pesisir datang bersamaan.
Anas Al-Shami, 33 tahun, bersama enam anggota keluarganya tinggal di tenda yang sudah rusak dekat Pelabuhan Al-Qarara. Mereka terpaksa mengungsi dari Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis.
Al-Shami sebenarnya telah mencari lokasi lain untuk mendirikan tenda. Namun, padatnya tempat pengungsian dan mahalnya biaya menyewa lahan membuat keluarganya bertahan di tepi pantai, meskipun menyadari risikonya.
Ia mengingat pengalaman musim dingin sebelumnya, ketika air laut dan hujan masuk ke dalam tenda saat keluarganya tidur. Anak-anaknya terbangun di tengah genangan air, sementara selimut dan barang-barang mereka basah.
Di lokasi yang sama, Ibrahim Abu Tir, 47 tahun, tinggal bersama tujuh anaknya di dalam tenda sempit yang tidak memiliki perlindungan memadai.
Ia mengatakan hal yang paling menyakitkan adalah perasaan tidak berdaya di hadapan anak-anaknya. Ia tidak mampu menyediakan pakaian musim dingin untuk melindungi mereka dari dingin, bahkan tidak bisa memastikan mereka tidur di atas kasur yang kering.
Kesaksian kedua keluarga ini menunjukkan bahwa krisis musim dingin di Gaza bukan hanya soal tenda yang robek. Banyak keluarga kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari pakaian, selimut, hingga tempat tidur kering. Mereka juga terpaksa tinggal di lokasi yang setiap saat terancam banjir.
Keluarga Pengungsi Kembali Dihantui Kecemasan
Muhammad Al-Jamal, 60 tahun, menceritakan upayanya memperkuat terpal tenda yang sudah rapuh di sebuah kamp pengungsian di pantai Kota Gaza. Ia berusaha mempersiapkan keluarganya menghadapi hujan dan angin yang diperkirakan datang.
Namun, setiap kali badai menerjang, terpal yang telah dipasang kembali robek atau terlepas. Keluarganya pun harus mengulang pekerjaan memperbaiki tenda, sebuah penderitaan yang terus berulang sepanjang musim dingin.
Sementara itu, Khatam Salman, 39 tahun, pengungsi dari Beit Lahia, mengatakan salah satu tenda keluarganya telah roboh sebanyak empat kali ketika mereka berada di dalamnya.
Terpal yang rusak tidak lagi mampu melindungi mereka dari pasir, air, dan angin. Salman mengingat pengalaman pahit musim dingin lalu, ketika tenda mereka runtuh dan seluruh barang di dalamnya basah.
Keluarganya bahkan sempat meninggalkan lokasi selama beberapa jam karena begitu frustrasi menghadapi kondisi tersebut. Kini, ia kembali dihantui kekhawatiran bahwa kejadian serupa akan terulang ketika musim hujan tiba.
Berbagai kesaksian ini menunjukkan bahwa menghadapi musim dingin bukan lagi persoalan musiman bagi warga Gaza. Persiapan yang seharusnya dilakukan setiap tahun kini menjadi beban psikologis dan ekonomi yang terus berlangsung, terutama bagi keluarga yang telah berulang kali mengungsi, kehilangan penghasilan, dan tidak lagi memiliki harta benda.
950 Ribu Pengungsi Terancam Banjir
Krisis ini tidak hanya bergantung pada upaya masing-masing keluarga. Data PBB menunjukkan skala ancaman yang jauh lebih luas.
Dalam laporan situasi kemanusiaan tertanggal 19 Oktober, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut sekitar 950 ribu pengungsi tinggal di lokasi yang memiliki risiko banjir sedang hingga tinggi.
Risiko tersebut semakin besar karena banyak keluarga tinggal di kawasan rendah atau pesisir yang tidak memiliki sistem drainase memadai. Infrastruktur dan jaringan sanitasi serta saluran pembuangan air hujan juga mengalami kerusakan akibat genosida.
Juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Husni Muhanna, memperingatkan besarnya kerusakan infrastruktur yang membuat kota tersebut semakin rentan menghadapi musim hujan.
Menurutnya, lebih dari 85 persen infrastruktur Kota Gaza mengalami kerusakan. Kapasitas jaringan drainase untuk mengalirkan air hujan bahkan kini hanya tersisa sekitar 20 persen dari kemampuan sebelumnya.
Pemerintah kota juga menghadapi kesulitan besar untuk melakukan pemeliharaan dan pembersihan saluran air. Kekurangan bahan bakar, alat berat, serta perlengkapan perbaikan membuat penanganan genangan air semakin sulit setiap kali hujan turun.
Musim Dingin Tak Bisa Dihadapi dengan Solusi Seadanya
Penggunaan lumpur, karung pasir, dan besi dari reruntuhan bukan sekadar bentuk kreativitas warga dalam beradaptasi. Cara-cara tersebut justru menunjukkan semakin lebarnya kesenjangan antara kebutuhan kemanusiaan dan bantuan yang tersedia.
Bagaimanapun, solusi seadanya tidak mampu memberikan perlindungan terhadap suhu dingin, menjamin tenda tetap berdiri saat badai, ataupun mengatasi persoalan drainase dan genangan air.
Menghadapi krisis ini, Gaza membutuhkan pengiriman tenda yang layak, bahan kedap air, kayu, serta perlengkapan untuk memperbaiki bangunan. Perbaikan jaringan drainase dan penyediaan lokasi pengungsian yang aman juga menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi keluarga yang tinggal di kawasan rendah dan bangunan yang terancam runtuh.
Di tengah warga yang berusaha memperkuat tenda dengan karung pasir, menambal dinding menggunakan lumpur, dan mengambil besi dari bawah reruntuhan, satu pertanyaan terus mengemuka: sampai kapan warga Gaza harus menciptakan sendiri cara-cara sederhana untuk melindungi anak-anak mereka dari hujan dan dingin, alih-alih mendapatkan tempat tinggal aman yang menjamin kebutuhan paling mendasar dan martabat kemanusiaan?









