GAZA — Sebanyak 466 warga Palestina, termasuk 157 anak-anak, meninggal akibat kekurangan gizi dan kelaparan di Jalur Gaza sejak 2024.
Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan, lebih dari 1,4 juta warga Palestina diperkirakan masih menghadapi krisis pangan atau kondisi yang lebih buruk hingga akhir 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 67 persen populasi Jalur Gaza.
Sementara itu, sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan tiga warga Palestina syahid akibat tembakan tentara penjajah Israel di Kota Gaza dan wilayah utara Jalur Gaza sejak Jumat dini hari.
Militer Israel menyatakan telah membunuh Muhammad Muhammad Abdul Khaliq Khallah dalam serangan udara di Gaza utara pada Kamis. Israel mengklaim Khallah merupakan tokoh penting di unit produksi persenjataan sayap militer Hamas dan berperan dalam pembuatan senjata serta penguatan kemampuan militer kelompok tersebut.
Dalam serangan terpisah di Khan Younis, Gaza selatan, militer Israel mengumumkan pembunuhan Ahmad Jabrin Tawfiq Dahlan pada Kamis. Israel menuduh Dahlan merupakan anggota sayap militer Jihad Islam.
Hingga laporan ini disusun, kedua kelompok tersebut belum memberikan tanggapan atas klaim Israel.
Pengumuman itu muncul ketika pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza masih berlangsung. Serangan, pembunuhan, pengeboman, dan penghancuran terus terjadi meskipun kesepakatan tersebut telah berlaku lebih dari setahun.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga Kamis, rangkaian pelanggaran Israel telah menyebabkan 1.505 warga Palestina syahid dan 5.332 lainnya terluka.
466 Warga Palestina Meninggal akibat Kelaparan
Di luar korban serangan langsung, krisis pangan terus merenggut nyawa warga Gaza. Dalam pernyataan yang diterbitkan Jumat, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa 466 orang meninggal akibat kekurangan gizi dan kelaparan sejak 2024. Sebanyak 157 di antaranya merupakan anak-anak, sementara 189 korban lainnya adalah lansia.
Angka kematian lansia mencapai 40,5 persen dari keseluruhan korban yang meninggal akibat kelaparan. Data tersebut disampaikan bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober.
Kementerian memperingatkan bahwa kekurangan pangan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Pada 22 Agustus 2025, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), UNICEF, Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kelaparan telah terjadi di Jalur Gaza.
Berbagai lembaga pemerintah Palestina dan organisasi hak asasi manusia menilai Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata dalam genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Situasi semakin memburuk setelah Israel memperketat pembatasan di perlintasan Gaza pada 2 Maret 2025. Ribuan truk bantuan yang telah menumpuk di depan perlintasan tidak diizinkan masuk, sementara persediaan barang di pasar semakin menipis.
Sebelumnya, kelaparan telah meluas di Gaza utara akibat blokade dan pembatasan masuknya bantuan pangan. Dalam kondisi tersebut, sebagian warga terpaksa mengonsumsi pakan ternak dan rumput untuk mengganjal perut.
Pada 22 Mei 2025, Israel mengizinkan masuknya 87 truk bantuan untuk lembaga internasional dan organisasi lokal. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, izin itu diberikan setelah perlintasan ditutup dengan ketat selama 81 hari.
Namun, setelahnya, bantuan tetap masuk dalam jumlah terbatas, tidak teratur, dan di bawah pembatasan ketat. Pada Februari 2026, Israel mengizinkan peningkatan terbatas jumlah truk yang masuk berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.
Pejabat Palestina menyatakan bahwa bantuan yang tiba belum mencakup kebutuhan pangan pokok dalam jumlah memadai. Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyebut tingkat pemenuhan komitmen Israel untuk memasukkan truk bantuan kemanusiaan tidak lebih dari 34 persen dari jumlah yang disepakati.
Puluhan Ribu Anak Mengalami Malnutrisi Akut
Dampak krisis pangan terlihat jelas pada kesehatan anak-anak Gaza. Kementerian Kesehatan melaporkan telah mencatat 158.001 kasus malnutrisi akut pada anak berusia di bawah lima tahun sejak 2024 hingga Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 28.716 anak mengalami malnutrisi akut yang mengancam nyawa. Sementara itu, 12,2 persen anak mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi berkepanjangan.
Kementerian juga mencatat kenaikan angka kematian anak berusia di bawah lima tahun dari 13,6 menjadi 33,4 kematian per 1.000 kelahiran hidup dalam periode 2022–2025.
Hingga April 2027, diperkirakan sebanyak 74.200 anak akan membutuhkan penanganan untuk malnutrisi akut.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dampak krisis pangan tidak hanya muncul dalam bentuk kelaparan saat ini. Kekurangan gizi juga mengancam pertumbuhan anak dan meningkatkan risiko kematian, terutama ketika layanan kesehatan serta pasokan obat-obatan tidak memadai.
Anemia Ibu Hamil Meningkat, Ribuan Kehamilan Hilang
Krisis pangan juga membebani kesehatan perempuan hamil. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, prevalensi anemia pada ibu hamil meningkat menjadi 61 persen pada 2026, dibandingkan 41 persen sebelum perang.
Kementerian mencatat sekitar 4.000 kasus kehilangan kehamilan selama enam bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kasus yang tercatat dalam enam bulan sebelumnya.
Selain itu, satu dari setiap tiga kehamilan di Gaza dikategorikan berisiko tinggi.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak krisis pangan telah meluas hingga mengancam kesehatan ibu dan janin. Kekurangan asupan gizi, ditambah keterbatasan layanan kesehatan, meningkatkan kerentanan perempuan hamil dan bayi yang dikandungnya.
PBB Diminta Buka Akses Bantuan Tanpa Pembatasan
Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan bahwa hak atas pangan merupakan hak asasi manusia yang tidak boleh dihilangkan dalam situasi perang.
Kementerian mendesak masyarakat internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil langkah segera untuk memastikan pasokan makanan, suplemen nutrisi terapeutik, dan obat-obatan dapat masuk ke Gaza secara aman, berkelanjutan, dan tanpa pembatasan.
Anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia diminta menjadi prioritas dalam penyaluran bantuan karena paling rentan terhadap dampak kekurangan gizi. Kementerian juga menyerukan dukungan untuk memulihkan produksi pangan lokal agar warga dapat kembali memenuhi sebagian kebutuhan pokok mereka secara mandiri.
Krisis ini tidak dapat dilepaskan dari kehancuran yang ditimbulkan perang. Infrastruktur, fasilitas kesehatan, lahan pertanian, fasilitas produksi pangan, dan jaringan air mengalami kerusakan luas. Akibatnya, kemampuan warga untuk memproduksi dan memperoleh makanan semakin terbatas.
Pengungsian berulang, hilangnya sumber pendapatan, serta kenaikan harga barang juga membuat keluarga-keluarga Palestina semakin bergantung pada bantuan kemanusiaan. Namun, distribusinya masih terkendala pembatasan dan sulit menjangkau warga secara teratur.
Sejak Oktober 2023, genosida Israel di Gaza dengan dukungan Amerika Serikat telah menyebabkan lebih dari 74 ribu warga Palestina syahid dan lebih dari 175 ribu lainnya terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan.
Di tengah kehancuran itu, angka 466 kematian akibat kelaparan menjadi penanda lain dari krisis kemanusiaan Gaza. Ancaman terhadap jutaan warga belum berakhir, sementara akses pangan dan layanan kesehatan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa masih jauh dari memadai.
Sumber: Al Jazeera dan Anadolu










