GAZA – Di garis depan pertempuran Gaza, kamera bukan hanya alat kerja, melainkan senjata untuk merawat ingatan dunia. Bagi Ahmed Wishah, videografer dan fotografer andalan saluran Al Jazeera Mubasher, lensa kamera juga merupakan ikatan darah yang tak terpisahkan dengan sang kakak, Mohammad Wishah. Namun kini, duet jurnalisme abadi itu telah tuntas. Ahmed resmi menyusul sang kakak ke keabadian setelah menjadi korban pembunuhan berencana militer Israel.
Sabtu, 20 Juni 2026, sebuah pesawat tanpa awak (drone) militer Israel membidik sebuah rumah tinggal di Kamp Pengungsian Al-Bureij, Gaza tengah. Rudal yang dilepaskan tepat sasaran, menghancurkan bangunan dan menyebabkan tiga warga sipil syahid seketika. Di antara tubuh yang tertimbun puing-puing itu, terdapat jasad Ahmed Wishah yang masih mengenakan atribut persnya.
Kematian pemuda berusia pertengahan 20 tahun ini laksana petir di siang bolong bagi industri pers global. Langkahnya terhenti tepat dua bulan setelah sang kakak, Mohammad Wishah (yang merupakan koresponden garis depan Al Jazeera Mubasher) syahid dibunuh dalam serangan serupa pada 8 April 2026 lalu.
Kombinasi Maut di Lapangan dan Tulang Punggung Yatim
Lahir dan besar di Kamp Pengungsian Al-Bureij, Ahmed adalah anak bungsu dari tiga bersaudara (bersama Mohammad dan Mahmoud). Sejak badai perang berkecukupan di Gaza, Ahmed dan Mohammad menjelma menjadi duet maut di medan liputan. Di mana ada laporan investigasi tajam dari Mohammad, di situ ada bidikan visual estetis dan akurat dari kamera Ahmed. Mereka berdua melintasi wilayah-wilayah paling berbahaya, mendokumentasikan rentetan pembantaian massal sipil demi menyiarkan kebenaran ke layar kaca dunia.
Namun, takdir menguji Ahmed lebih awal. Ketika Mohammad gugur pada bulan April, separuh jiwa profesi Ahmed runtuh. Kendati demikian, alih-alih mundur dari medan perang, pemuda ini justru melipatgandakan keberaniannya.
Ahmed memikul tanggung jawab besar yang ditinggalkan sang kakak. Di usianya yang masih sangat muda, ia mendadak bertransformasi menjadi kepala keluarga darurat: menghidupi ibu dan saudara yang tersisa, mengasuh anak-anak yatim peninggalan kakaknya, sekaligus tetap menenteng kamera ke zona merah setiap hari tanpa rasa takut.
Martir Ke-12: Seruan Menyeret Otoritas Tel Aviv ke Mahkamah Internasional
Koresponden lapangan Al Jazeera, Ghazi Al-Aloul, melaporkan bahwa serangan drone di Al-Bureij yang menewaskan Ahmed merupakan bagian dari operasi agresi terencana yang menargetkan sepuluh warga sipil di hari yang sama.
Merespons pembunuhan keji ini, Jaringan Media Al Jazeera (Al Jazeera Media Network) merilis pernyataan resmi yang mengutuk keras tindakan sistematis militer Israel terhadap para pekerja medianya di lapangan.
“Kejahatan keji ini terjadi hanya berselang dua bulan dari pembunuhan kakak kandungnya. Ahmed kini bergabung dengan barisan para martir Al Jazeera di Gaza, yang jumlahnya telah mencapai 12 orang sejak pecahnya konflik,” tulis pernyataan resmi manajemen Al Jazeera.
Jaringan media yang berbasis di Qatar tersebut mendesak komunitas internasional, organisasi hak asasi manusia, dan lembaga hukum global untuk segera mengambil langkah konkret. Al Jazeera menuntut sanksi pidana internasional dan penerbitan surat penangkapan terhadap pejabat komando militer Israel yang terlibat langsung dalam penargetan para jurnalis.
Bagi rekan-rekan pers di Gaza, Ahmed Wishah bukan sekadar angka ke-263 dalam daftar jurnalis Palestina yang gugur. Ia adalah simbol dari sebuah generasi muda yang menolak tunduk pada sensor perang, seorang adik yang setia menjaga warisan profesi kakaknya hingga titik darah penghabisan.










