WASHINGTON – Slogan mentereng sering kali berbanding terbalik dengan isi dompet. Tengok saja “Majelis Perdamaian” (Peace Council), badan bentukan Donald Trump yang didesain mentereng untuk mengawasi rekonstruksi pasca-perang di Jalur Gaza. Lembaga ini dikabarkan sedang dilanda paceklik akut. Komitmen miliaran dolar dari negara-negara donor yang dahulu digembar-gemborkan, hingga kini tak kunjung mendarat di rekening resmi.
Kabar miring ini pertama kali ditiupkan oleh sumber internal kepada Agence France-Presse (AFP), Rabu, 27 Mei 2026. Alih-alih membantah dengan menyodorkan laporan keuangan, Majelis Perdamaian memilih meresponsnya lewat sebuah cuitan defensif di platform X (Twitter).
Informan tersebut membisikkan bahwa dana khusus (special fund) yang dikelola Majelis Perdamaian masih melompong tanpa isi satu dolar pun. Alasan yang dipakai terkesan birokratis: dana tersebut baru bisa dicairkan jika Gaza sudah memasuki fase rekonstruksi dan pembangunan jangka panjang. Masalahnya, merujuk pada diktum perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang diteken 10 Oktober tahun lalu, fase itu masih jauh panggang dari api.
Rute Sunyi jp Morgan dan Tudingan “Media Kiri”
Penelusuran lebih dalam yang dirilis harian ekonomi Financial Times (FT) makin memperkeruh suasana. Mengutip empat sumber yang mengetahui dapur lembaga ini, FT melaporkan bahwa rekening resmi yang berada di bawah pengawasan Bank Dunia dan disokong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang belum menerima sepeser pun pasokan dana.
“Tak ada satu dolar pun yang didepositokan di sana,” ujar salah satu sumber kepada FT.
Sebagai gantinya, aliran dana donor dari para sekutu Trump justru dialihkan ke akun korporat privat yang dibuka di bank investasi JP Morgan. Di sinilah letak persoalannya: akun di bank swasta AS itu tidak terikat pada kewajiban transparansi publik atau audit independen yang ketat—sebuah pola yang sangat “khas Trump”.
[DUALISME ALIRAN DANA REKONSTRUKSI GAZA]
┌─── Rekening Bank Dunia & PBB ───> US$ 0 (Kosong Melompong)
│
└─── Akun Privat JP Morgan ────────> Dana Masuk (Tanpa Audit Independen)
Gerah dengan pemberitaan tersebut, manajemen Majelis Perdamaian langsung menuding FT sengaja melakukan pembunuhan karakter. Mereka mengklaim rekening Bank Dunia itu hanyalah satu dari sekian banyak skema pendanaan yang kebetulan belum diaktifkan oleh konsorsium negara donor. “Kami dibiayai melalui jalur lain,” tulis pernyataan resmi Majelis di platform X.
Mereka juga menyerang balik FT dengan menyebut media Inggris itu sengaja menaruh rumor tersebut di awal artikel demi membangun narasi miring untuk mendelegitimasi komitmen Washington di Timur Tengah.
Dapur Data: Ambisi Menyaingi PBB yang Berbiaya Mahal
Majelis Perdamaian dilahirkan pada Januari 2026 sebagai kompromi politik atas proposal damai usulan Gedung Putih. Pada mulanya, badan ini dirancang sebatas pengawas gencatan senjata dan pemulihan infrastruktur Gaza. Namun, di bawah kendali Trump—yang tetap menjabat sebagai ketua meski tak lagi duduk di kantor kepresidenan—wewenang Majelis melar lapangan. Mereka kini mengklaim berhak mengintervensi dan menyelesaikan berbagai sengketa internasional.
Sikap jemawa ini jelas memicu kegusaran di New York. Majelis Perdamaian dicurigai sengaja dibentuk untuk menjadi lembaga mawan (rival) yang mengerdilkan peran PBB.
Melihat gelagat politis tersebut, raksasa Eropa seperti Prancis dan Inggris buru-buru mengambil jarak. Alhasil, anggota Majelis ini hanya menyisakan kroni-kroni ideologis Trump, mitra historis AS di Timur Tengah, dan beberapa negara satelit berukuran kecil.
Skala proyek ini memang membutuhkan dana raksasa yang tidak sedikit. Berikut perbandingan komitmen politik dan realitas kebutuhan di lapangan:
| Komponen Anggaran | Jumlah Nominal (Per Mei 2026) | Karakteristik / Aturan Main |
| Janji Kontribusi AS | US$ 10 Miliar | Dijanjikan langsung oleh Donald Trump |
| Tarif Kursi Tetap Majelis | US$ 1 Miliar / Negara | “Tiket masuk” keanggotaan permanen |
| Estimasi Total Kebutuhan Gaza | US$ 71,4 Miliar | Proyeksi 10 tahun (PBB, Uni Eropa, Bank Dunia) |
| Estimasi Kerusakan Fisik | 90% Infrastruktur Sipil | Dampak perang pemusnahan sejak Oktober 2023 |
Hingga April kemarin, taksiran bersama yang dirilis PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia menyebutkan rekonstruksi Gaza untuk sepuluh tahun ke depan bakal menelan biaya sedikitnya US$ 71,4 miliar. Angka fantastis itu diperlukan untuk membangun kembali puing-puing kota yang hancur lebur akibat perang yang menewaskan lebih dari 72 ribu jiwa tersebut.
Kini, dengan perang tarif kursi anggota senilai satu miliar dolar per kepala dan pengalihan dana ke bank swasta, proyek kemanusiaan di Gaza mulai bergeser menyerupai transaksi bisnis gaya New York. Sementara para diplomat berdebat tentang isi rekening JP Morgan, jutaan warga Gaza di bawah tenda plastik harus menerima kenyataan: beton pertama untuk rumah mereka belum bisa dibeli karena uangnya masih tertahan di pusaran politik Washington.










