AL-QUDS — Gelombang kemarahan global luar biasa kini menghantam Israel. Sejumlah ibu kota dunia bergerak serentak melancarkan aksi diplomatik tingkat tinggi, memanggil para duta besar Israel untuk memprotes tindakan tak manusiawi dan merendahkan martabat yang menimpa para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditahan oleh otoritas Tel Aviv.
Kemarahan internasional ini mendidih setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal radikal, Itamar Ben-Gvir, dengan congkak mengunggah sebuah video di akun X (Twitter) miliknya. Video tersebut justru menjadi barang bukti nyata bagaimana para relawan kemanusiaan yang berniat menembus blokade laut Gaza disiksa secara keji.
Rekaman itu mempertontonkan pemandangan yang menyayat hati: para aktivis dipaksa membungkuk dalam kondisi tangan terborgol dan kepala tertunduk dalam posisi terhina. Di tengah kepasrahan para tahanan di Pelabuhan Militer Ashdod, Ben-Gvir melakukan provokasi murahan dengan melontarkan cacian, ejekan, dan kalimat bernada hasutan.
“Selamat datang di Israel,” tulis Ben-Gvir dalam takarir video yang memperlihatkan puluhan aktivis di atas kapal militer dan di dalam barak tahanan. Tampak pula aksi jemawa Ben-Gvir mengibarkan bendera Israel di depan wajah salah satu aktivis sembari meneriakkan, “Am Yisrael Chai” (Hiduplah Israel).
Berikut adalah peta perlawanan diplomatik global yang menghantam Israel:
Benua Eropa Meradang: Boikot dan Pemanggilan Diplomat
- Italia: Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan lewat akun X bahwa Roma telah memanggil Dubes Israel untuk menuntut penjelasan atas penyiksaan yang juga menimpa warga negara Italia. Meloni memastikan pemerintahannya akan mengambil segala langkah hukum demi membebaskan warganya dan menuntut permohonan maaf resmi dari Tel Aviv.
- Prancis: Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot melayangkan kecaman keras dan memanggil Dubes Israel di Paris untuk menuntut pembebasan segera seluruh aktivis Prancis.
- Spanyol: Menteri Luar Negeri José Manuel Albares memanggil Kuasa Usaha Israel, Dan Poraz, guna memprotes perlakuan brutal tersebut. Lebih jauh, PM Spanyol Pedro Sánchez menegaskan pihaknya tengah menggalang kekuatan di Uni Eropa untuk memperluas sanksi larangan masuk bagi Ben-Gvir ke seluruh wilayah Eropa.
- Belanda & Belgia: PM Belanda Rob Jetten menyebut tindakan Israel telah berada di luar batas kemanusiaan dan tidak bisa ditoleransi. Senada, Belgia memanggil Dubes Israel untuk memprotes perlakuan yang mereka sebut “sangat mengkhawatirkan”.
- Jerman & Inggris: Dubes Jerman untuk Israel, Steffen Seibert, menyebut tindakan Ben-Gvir bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan negaranya. Sementara itu, Menlu Inggris Yvette Cooper menuduh Israel telah mengangkangi standar paling mendasar dari penghormatan terhadap martabat manusia.
- Slovenia, Irlandia, & Austria: Menlu Slovenia Tanja Fajon menyebut aksi ini “mengerikan dan mengejutkan”. Menlu Irlandia Helen McEntee mengingatkan bahwa para aktivis ditangkap secara ilegal di perairan internasional. Austria pun telah melayangkan protes resmi kepada Dubes Israel di Wina.
- Portugal, Swiss, Slovakia, & Finlandia: Keempat negara ini kompak menuntut penjelasan, mengutuk keras perilaku Ben-Gvir, dan mendesak jaminan hak perlindungan hukum serta keamanan bagi para sandera.
- Polandia: Wakil PM sekaligus Menlu Polandia, Radosław Sikorski, melangkah lebih jauh dengan mendesak adanya hukuman dan sanksi internasional yang konkret bagi Israel.
Reaksi Keras dari Belahan Dunia Lain
- Turki: Ankara mengutuk keras kekerasan verbal dan fisik yang dilakukan Ben-Gvir. Kementerian Luar Negeri Turki kini memimpin koordinasi lintas negara untuk memastikan pembebasan yang aman bagi seluruh peserta armada.
- Yunani: Mengecam keras tindakan tak beradab tersebut, sementara gelombang massa di Athena langsung menggeruduk dan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Israel.
- Kolombia: Presiden Gustavo Petro tanpa tedeng aling-aling menyamakan Ben-Gvir dengan kelompok fasis masa lalu. Sembari membagikan ulang video penyiksaan tersebut, Petro menulis di akun X miliknya bahwa Ben-Gvir “bertindak layaknya seorang Nazi sejati.”
- New Zealand (Selandia Baru): Menlu Winston Peters mengumumkan bahwa Wellington akan memanggil Dubes Israel untuk menyampaikan kekhawatiran yang mendalam atas nasib para aktivis pembongkar blokade Gaza tersebut.
Institusi Internasional Bersuara
- Uni Eropa: Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, mengkritik keras kelakuan ekstremis kanan Ben-Gvir sebagai tindakan yang “sangat tidak patut”. Juru bicara Komisi Eropa, Anwar El Anouni, mendesak Tel Aviv menjamin keselamatan para aktivis.
- Organisasi Kerja Sama Islam (OKI): Aliansi yang beranggotakan 57 negara muslim ini mengeluarkan pernyataan paling keras. OKI menyebut aksi penganiayaan dan penghinaan oleh militer Israel sebagai “kejahatan terorisme negara yang terorganisasi”. OKI menegaskan tindakan ini menambah daftar hitam pelanggaran hukum humaniter internasional oleh Israel yang sengaja memutus bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di Jalur Gaza.
Hingga Selasa lalu, Kementerian Luar Negeri Israel mengeklaim telah merampungkan penahanan terhadap seluruh peserta armada. Namun data dari pihak penyelenggara Flotilla mengungkap skala kebrutalan yang sebenarnya: militer Israel mengerahkan kekuatan penuh untuk menghadang sekitar 50 kapal yang membawa 428 aktivis kemanusiaan dari 44 negara dunia.
Sumber: Al Jazeera










