Khalil Salem telah melampaui segala fase pahit sejarah Palestina, mulai dari Nakba 1948 hingga Naksah 1967. Namun di usianya yang ke-85, ia harus memikul beban paling mustahil, menjadi “paru-paru” bagi 21 cucunya yang yatim piatu setelah 80 anggota keluarganya lenyap dalam semalam.


KOTA GAZA – Saban petang, saat bayang-bayang mulai memanjang di kawasan Sheikh Radwan, Khalil Salem duduk mematung. Pria yang akrab disapa Abu Akram ini tak punya lagi ruang tamu mewah atau kebun yang asri. Singgasananya hanya sebuah kursi plastik tua, dikelilingi tembok-tembok yang menghitam oleh jelaga dan tumpukan perabot yang hangus.

Di usianya yang senja, sosoknya adalah monumen hidup bagi penderitaan Gaza. Di wajahnya tergambar kerutan konflik puluhan tahun, namun luka yang paling menganga justru baru saja ditorehkan oleh perang kali ini. Abu Akram adalah penyintas yang terbebani oleh hidupnya sendiri.

Malam yang Memutus Silsilah

Pukul enam pagi, 11 Desember 2023, menjadi titik nadir dalam garis hidup Abu Akram. Militer Israel menggempur blok permukiman keluarga Salem, meratakan empat rumah sekaligus. Dalam satu dentuman besar, 80 nyawa dari keluarga besarnya terbang. Dari lingkaran inti keluarganya, 12 orang gugur, termasuk istri, tiga dari empat anak laki-lakinya, serta dua menantunya.

Abu Akram selamat secara ajaib, namun raga dan jiwanya remuk. Ia ditarik dari reruntuhan dengan luka di kepala dan leher yang membutuhkan 36 jahitan. Hingga kini, lehernya dipasangi penyangga medis yang membuat keseimbangannya goyah. Setiap kali ia berdiri, ia harus bertumpu pada tongkat kayunya seolah sedang menyangga seluruh beban dunia.

Namun, rasa sakit fisiknya kalah oleh tanggung jawab baru yang menanti: 21 cucu. Mereka kini bergantung sepenuhnya pada kakek yang untuk berjalan saja sulit ini. Dari rumah besar yang penuh tawa, kini mereka berubah menjadi kawanan anak-anak yang hanya menunggu sang kakek untuk mengumpulkan mereka, menyuapi mereka, dan (yang paling krusial) mengingatkan siapa nama orang tua mereka.

Ritual di Depan Foto Muhammad

Di depan tempat duduknya, Abu Akram memajang foto putra sulungnya, Muhammad, yang telah syahid. Foto itu ia letakkan tepat di depan reruntuhan kamar kecil yang kini ia tinggali. Di depan wajah Muhammad itulah Abu Akram menjalani harinya: memasak di dapur darurat, mengumpulkan kayu bakar, dan bercerita.

“Anak-anakku adalah pelita mataku, dan cucu-cucuku adalah sisa-sisa terakhir dari aroma mereka,” tuturnya dengan suara serak.

Bagi Abu Akram, duka yang paling menusuk bukan hanya kehilangan nyawa, tapi hilangnya “barang kenangan”. Pakaian, mainan, hingga foto-foto keluarga lumat terbakar. Tak ada lagi benda yang bisa ia berikan kepada para cucunya sambil berkata, “Ini milik ayahmu” atau “Ini dulu dipakai ibumu”.

Itulah alasan mengapa ia menolak pindah dari reruntuhan itu. Baginya, debu dan puing rumah yang hancur adalah satu-satunya saksi fisik bahwa mereka pernah hidup, pernah tertawa, dan pernah ada di sana.

Sekolah Ingatan: Melawan Lupa

Tiap sore, ritual “sekolah ingatan” dimulai. Para cucu, mulai dari balita hingga remaja, duduk melingkar di bawah kakinya. Abu Akram mulai merajut narasi. Ia menceritakan bagaimana rupa ayah mereka, apa makanan favorit ibu mereka, dan bagaimana mereka dulu berperilaku.

Ia sadar betul bahwa anak-anak ini sedang tumbuh di tengah badai trauma. Jika ia tak bercerita, sosok orang tua mereka akan hilang dua kali: pertama secara fisik, kedua dari ingatan.

“Ini adalah cara saya melindungi keluarga dari ‘kematian kedua’. Mereka boleh kehilangan raga, tapi biografi mereka harus tetap hidup di lidah anak-anak ini,” ujar Abu Akram.

Luka di Mata Si Kecil

Di antara barisan cucu itu, ada Muhammad, Adi, dan Mahmoud, tiga bersaudara yang menyaksikan langsung bagaimana ayah mereka dibunuh di depan mata saat mengungsi di Sekolah Al-Dahyan. Mereka melihat tulang kepala ayah mereka remuk dihantam popor senapan, sebelum dua granat dilemparkan ke arah mereka.

Ada pula Adi, balita berusia tiga tahun yang kini yatim piatu. Abu Akram menaruh perhatian khusus padanya. Setiap kali menatap Adi, ia melihat bayangan putrinya yang telah tiada. “Saya menatapnya dan saya menangis.

Dua tahun berlalu, tapi air mata saya tetap jatuh tiap melihatnya. Ia kehilangan ibu di saat paling membutuhkannya, persis seperti saya yang kehilangan putri saya,” ucapnya sembari menyeka air mata.

Benteng Terakhir di Sheikh Radwan

Keluarga Salem adalah mikrokosmos dari nestapa Gaza. Di satu atap darurat ini, ada kisah syuhada, luka permanen, hingga mantan tawanan. Abdullah, satu-satunya putra Abu Akram yang tersisa, baru saja bebas setelah dua bulan disiksa di penjara Israel. Yusuf, salah satu cucunya, juga baru kembali dalam kesepakatan pertukaran tawanan Januari 2025 lalu dalam kondisi batin yang hancur.

Sebelum gencatan senjata Oktober lalu, militer sempat memerintahkannya pergi. Namun Abu Akram bergeming. Baginya, meninggalkan Sheikh Radwan berarti meninggalkan aroma keluarganya. Ia memilih bertahan di antara tembok hitam dan reruntuhan, menjadi penjaga memori bagi 21 yatim yang hanya memiliki dirinya sebagai jembatan menuju masa lalu yang telah sirna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here