Dalam buku “Untuk Dosa Apa Rumah Itu Dihancurkan?, pedih bukan sekadar narasi basi. Ia hadir meruntuhkan dinding-dinding rumah, mendefinisikan ulang arti keluarga, cinta, hingga bahasa itu sendiri. Hanadi Skik tidak menulis sebagai saksi mata yang berdiri di kejauhan, melainkan sebagai penyintas yang dipaksa bangkit dari liang lahatnya sendiri.

“Apakah rumah merasakan ketakutan sebelum dibom?” Pertanyaan itu bukan datang dari seorang penyair, melainkan dari seorang Hanadi Taha Skik, spesialis sosial dan konsultan keluarga yang dunianya kiamat dalam semalam.

Hanadi kehilangan 22 anggota keluarganya: ibunya, suaminya, anak laki-lakinya beserta sang istri, cucu-cucunya, hingga saudara-saudaranya. Ia sendiri ditarik dari bawah reruntuhan, seolah maut masih memberinya jeda untuk satu tugas terakhir: bersaksi.

Buku karyanya bukan sekadar ratapan. Melalui 70 pertanyaan esensial, Hanadi mencoba mengurai psikologi perang. Ia menggabungkan data statistik dengan testimoni hidup yang membuat rasa sakit personalnya bertransformasi menjadi potret luka kolektif bangsa Palestina.

Fragmen Kiamat Kecil

Petaka Hanadi dimulai pada 9 Oktober 2023. Rumahnya hancur total. Baginya, selamat hari itu bukan sebuah keajaiban yang patut dirayakan, melainkan awal dari “kematian dini” atas jiwanya. Ia pindah ke rumah putranya, namun reruntuhan kembali mengejar pada 20 Oktober.

Puncaknya terjadi pada 13 November 2023 di rumah ayahnya. Rumah yang menampung sekitar 50 orang itu dihantam bom langsung. Nyaris semua orang di sana tewas. Hanya Hanadi dan salah satu saudara laki-lakinya yang tersisa. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptist dalam kondisi antara sadar dan koma, berlumur darah, dengan jantung yang patah berkeping-keping.

Pada 7 Januari 2024, ia mulai menulis. Bukan untuk menangis, tapi untuk mendokumentasikan rasa sakit agar suara mereka yang telah tiada tak lekang ditelan debu peperangan.

Dialog di Bawah Debu

Dalam 70 pertanyaan yang diajukan, Hanadi menyentuh sisi paling rapuh dari kemanusiaan:

  • “Apakah rumah takut sebelum dibom?” Hanadi menjawab: “Ya… Aku merasakan ketakutannya bergetar di dadaku. Malam itu aku merapikan hatiku sebelum merapikan rumahku. Aku bilang, esok akan lebih baik. Aku tak tahu esok datang tanpa rumah.”
  • “Apa yang terjadi pada jiwa saat pertama kali kehilangan?” Baginya, setiap sudut, aroma, dan kata-kata yang lewat berubah menjadi saksi atas ketiadaan yang dahulunya begitu nyata.

Pembedahan Psikologi dan “Bahasa Penjajah”

Sebagai ahli sosial, Hanadi tidak membiarkan bukunya menjadi sekadar memoar. Ia membedah bagaimana perang menghancurkan struktur mental masyarakat Gaza. Ia menjelaskan “perilaku bertahan hidup” (survival behaviors) yang keras, hilangnya gairah masa depan, hingga trauma mendalam pada anak-anak dan ibu.

Yang menarik, ia mendedikasikan ruang untuk membongkar propaganda media. Hanadi menyoroti bagaimana istilah-istilah medis dan militer digunakan untuk memperhalus kejahatan.

  • “Pembersihan Militer” menggantikan diksi penghancuran massal.
  • “Evakuasi Sukarela” atau “Pemukiman Sementara” digunakan untuk menutupi fakta pengungsian paksa (forced displacement).
  • “Operasi Militer Terbatas” menjadi kedok untuk pemboman serampangan terhadap warga sipil.

Data di Balik Debu

Bagian akhir buku ini adalah arsip dingin yang mengerikan. Hingga 6 April 2024, Hanadi mencatat:

  • Korban Jiwa: 72.302 syahid (angka terus bertambah).
  • Luka-luka: 172.090 orang.
  • Luka Sosial: 64.616 yatim dan 26.370 janda.
  • Masa Depan yang Terpotong: 21.510 anak-anak tewas dan 864 anak mengalami amputasi atau cacat permanen.

Infrastruktur pun lumpuh. Sekitar 410.000 unit rumah terdampak, dengan 335.000 di antaranya rata dengan tanah. Sebanyak 1.049 masjid hancur total, menandakan serangan yang sistematis terhadap identitas dan tempat bernaung.

Membaca “Bagi Dosa Apakah Rumah-Rumah Itu Dihancurkan?” tidak akan memberikan jawaban tuntas tentang kapan perang berakhir. Sebaliknya, pembaca akan pulang dengan beban moral yang berat: tentang keadilan, tentang kelangsungan hidup, dan tentang apa artinya kehilangan segalanya dalam sekejap, lalu masih diminta dunia untuk “melanjutkan hidup”.


Sumber: Diterjemahka dan Diolah dari Laporan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here