Kesucian Al-Quds kini dikepung sentimen rasial. Michael Lynk, mantan Pelapor Khusus PBB, mengungkap agenda sistematis Israel dan kelompok pemukim untuk mengusir warga Palestina, tanpa terkecuali komunitas Kristen tertua di dunia. Di balik retorika politik, ini adalah perang terhadap eksistensi sebuah identitas.
Michael Lynk tidak sedang beretorika saat menyebut Israel ingin “menghapus” keberadaan warga Palestina, termasuk penganut Kristen, dari tanah leluhur mereka. Bagi Lynk, eskalasi serangan pemukim ekstremis terhadap komunitas Kristen belakangan ini bukan sekadar insiden kriminal biasa, melainkan bagian dari desain besar pengusiran paksa.
“Target utamanya adalah identitas mereka sebagai orang Palestina,” ujar Lynk dalam wawancara dengan Anadolu. Di mata pendudukan, tak ada bedanya antara salib dan bulan sabit jika keduanya melekat pada tubuh orang Palestina.
Matinya Toleransi di Kota Suci
Tahun ini mencatatkan sejarah kelam yang tak pernah terjadi selama berabad-abad. Untuk pertama kalinya, ritual Minggu Palma di Gereja Makam Kudus dilarang. Dalihnya klasik: keamanan. Sejak akhir Februari, otoritas Israel menutup Gereja Makam Kudus dan Masjid Al-Aqsa selama 40 hari dengan alasan ketegangan militer dengan Iran, sebelum akhirnya dibuka kembali pasca-gencatan senjata singkat di bulan April.
Namun, bagi Lynk, pembatasan akses ibadah ini adalah cara Israel “memperdalam pendudukan” di tengah absennya akuntabilitas internasional. “Israel merasa bisa berbuat apa saja karena mereka menikmati impunitas,” tegasnya.
Serangan Rasialis terhadap Biarawati
Kasus terbaru yang memicu kecaman dunia adalah penganiayaan terhadap seorang biarawati Prancis di Yerusalem Timur oleh seorang ekstremis Yahudi. Luka di kepala sang biarawati menjadi bukti visual bahwa kekerasan ini nyata. Ironisnya, Lynk mencatat bahwa penyelidikan baru dimulai setelah muncul “tekanan internasional” yang masif.
“Tanpa tekanan dunia, pelanggaran harian seperti pengepungan desa-desa Kristen dan penyerangan komunitas lokal biasanya menguap begitu saja tanpa penyidikan serius,” tambah Lynk. Kepolisian Israel memang akhirnya menahan tersangka pria berusia 36 tahun, namun bagi warga setempat, penangkapan satu orang tidak menghapus pola teror yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Ironi Dukungan Kristen Zionis
Satu hal yang disorot tajam oleh Lynk adalah sokongan finansial dan politik dari kelompok “Kristen Zionis” di Eropa dan Amerika Utara. Ia menilai ada kontradiksi moral yang luar biasa di sini: kelompok yang mengaku Kristen di Barat justru mendukung kebijakan yang secara sistematis menindas—dan pada akhirnya mengusir—komunitas Kristen asli di Palestina, yang merupakan salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.
“Jika ada komunitas di dunia yang paling berhak menerima solidaritas dari umat Kristen global, itu adalah komunitas Kristen Palestina,” kata Lynk.
Garis Waktu Penghapusan Identitas
Proses marginalisasi ini bukan barang baru. Lynk menarik benang merah dari peristiwa Nakba 1948, di mana 750 ribu warga Palestina diusir. Sejak bergabung dengan PBB pada 1949, Israel dituding konsisten mengabaikan resolusi mengenai hak kembali (right of return) pengungsi.
Strategi yang digunakan sekarang lebih halus namun tak kalah mematikan:
- Tekanan Ekonomi: Menciptakan kondisi hidup yang sangat sulit sehingga warga “terpaksa” memilih migrasi.
- Pemutusan Akar Sejarah: Melemahkan keterikatan warga dengan tanah dan sejarah mereka.
- Pembangunan Permukiman: Terus memperluas permukiman ilegal yang menurut hukum internasional masuk dalam kategori kejahatan perang.
Dukungan dari Vatikan
Di tengah sunyinya tanggapan pemimpin dunia, Lynk mengapresiasi sikap Paus Leo XIV. Komunikasi rutin Paus dengan romo Katolik di Gaza selama perang dianggap memberikan dukungan moral yang krusial. Paus secara vokal terus menuntut gencatan senjata dan dialog, kontras dengan sikap diam banyak negara yang memiliki populasi Kristen besar.
“Ekstremis pemukim, tentara, dan pemerintah Israel ingin warga Kristen Palestina lenyap. Mereka ingin menghapus jejak itu sepenuhnya,” pungkas Lynk.










