Aktivis kemanusiaan Thiago Avila dan Saif Abu Kishk tidak hanya diculik di laut lepas. Di tangan otoritas Israel, misi menembus blokade Gaza ini berujung pada ruang isolasi yang beku, ancaman mati, hingga tuduhan terorisme yang dipaksakan.
CERITA tentang Armada Global Sumud Flotilla yang diculik militer Israel di perairan internasional pekan lalu kini memasuki babak yang lebih gelap. Bukan lagi soal sengketa batas laut, melainkan tentang apa yang terjadi di balik pintu besi penjara Shikma, Ashkelon.
Lubna Touma, pengacara dari pusat hukum Adalah, membeberkan detail yang mengoyak rasa kemanusiaan. Dua aktivis, Thiago Avila (Brasil) dan Saif Abu Kishk (Spanyol), dipisahkan dari 170 rekan mereka sesama awak armada. Keduanya tidak dideportasi, melainkan diseret ke daratan Israel melalui jalur laut untuk sebuah “penyambutan” yang brutal.
Di atas kapal militer, menurut Touma, keduanya diperlakukan layaknya pesakitan kelas wahid. Mereka dipaksa tiarap, kepala ditekan ke lantai, sembari dihujani makian, ludah, dan kekerasan fisik dalam kondisi mata tertutup rapat. Thiago bahkan dikabarkan sempat pingsan dua kali akibat hantaman benda tumpul.
Labirin Hukum dan Tuduhan Kosong
Upaya pembelaan hukum pun bak membentur tembok. Saat tim pengacara menyambangi penjara pada Sabtu lalu, otoritas Israel menolak membeberkan tuduhan resmi terhadap kedua aktivis tersebut. Tabir baru terbuka di ruang sidang: Israel menyodorkan lima pasal keamanan, mulai dari keanggotaan organisasi teroris hingga membantu musuh di masa perang.
Bagi Touma, pasal-pasal ini adalah sebuah hiperbola hukum. “Targetnya jelas: menggoreng isu keamanan agar kasus ini terlihat sangat berbahaya,” ujarnya.
Kini, siksaan fisik mungkin telah mereda, namun perang saraf dimulai. Kepada tim pembela yang berkunjung Senin ini, Thiago dan Saif mengaku berada dalam tekanan psikis yang hebat. Mereka diancam hukuman penjara hingga 100 tahun, bahkan ancaman pembunuhan jika tidak kooperatif.
Metode yang digunakan pun klasik khas dinas intelijen: sel isolasi yang disetel sangat dingin dan lampu pijar yang terus menyala 24 jam. Tujuannya satu, agar tawanan tak bisa memejamkan mata dan saraf mereka rontok perlahan.
Medis yang Terbelenggu
Pelanggaran etika ini meluas hingga ke ruang pemeriksaan kesehatan. Pusat hukum Adalah mengecam keras praktik militer yang tetap menutup mata tawanan, bahkan saat mereka sedang menjalani pemeriksaan medis. “Menutup mata pasien saat kunjungan dokter adalah penghinaan terang-terangan terhadap etika medis dunia,” tegas lembaga tersebut dalam pernyataan resminya.
Pemeriksaan yang dilakukan pun terlihat janggal. Alih-alih menggali motif kriminal, interogasi justru melulu berfokus pada detail Armada Ketabahan. Ini memperkuat dugaan bahwa penahanan ini adalah upaya sistematis untuk mengkriminalisasi bantuan kemanusiaan dan solidaritas sipil bagi warga Gaza.
Saat ini, Thiago dan Saif sedang memasuki hari keenam aksi mogok makan sebagai bentuk protes terakhir. Mereka hanya mengandalkan air putih untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian hukum. Pengadilan Israel sendiri telah memperpanjang masa penahanan mereka selama dua hari, dan dunia kini menunggu apakah besok, Selasa, Tel Aviv akan kembali menambah masa “siksa” bagi kedua relawan ini.
Meskipun Kementerian Luar Negeri Israel membantah adanya penganiayaan, memar di tubuh Thiago dan sel yang membeku di Shikma menceritakan narasi yang jauh berbeda.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari laporan Al Jazeera dan Agence France-Presse (AFP)










