Gencatan senjata di Gaza sedang berada di ujung tanduk. Di tengah meja perundingan yang macet, Benyamin Netanyahu dan para jenderalnya kembali menabuh genderang perang. Gaza kini bukan sekadar medan tempur, melainkan laboratorium politik bagi kelangsungan takhta sang Perdana Menteri.

JALUR Gaza kembali masuk ke zona merah. Belakangan, ruang-ruang publik di Israel disesaki oleh desas-desus mengenai rencana militer untuk memutar kembali roda operasi tempur. Bagi para pengamat, gertakan ini bukan sekadar bising media, melainkan bagian dari desain besar Tel Aviv untuk menata ulang peta keamanan kawasan—sebuah kalkulasi yang menghubungkan nasib Gaza dengan ketegangan di Lebanon hingga rivalitas panas dengan Iran.

Setelah berbulan-bulan diselimuti gencatan senjata yang rapuh, bahasa kekuatan kembali ke permukaan. Sejumlah sumber di Markas Besar Militer Israel membocorkan kepada media lokal bahwa “babak baru pertempuran kini hampir mustahil dihindari.” Namun, keputusan untuk kembali angkat senjata ini ibarat pisau bermata dua. Di internal militer sendiri, para jenderal mulai pening menghitung ongkos perang baru di tengah kondisi pasukan yang mulai loyo dan medan Gaza yang sudah lumat menjadi puing serta sesak oleh pengungsi.

Senjata versus Hak: Kebuntuan di Kairo

Di meja perundingan, batu sandungan terbesar adalah satu frasa: “Pelucutan Senjata”. Tel Aviv menjadikan poin ini sebagai syarat mati sebelum melangkah ke fase berikutnya. Bagi Hamas, tuntutan ini jelas ditolak mentah-mentah. “Senjata kami melekat pada adanya pendudukan,” begitu kira-kira posisi mereka. Baginya, arsenal yang dimiliki bukanlah sekadar kartu di meja judi diplomasi, melainkan satu-satunya alat tawar yang tersisa.

Hamas menuding Israel sengaja mengulur waktu dan menyabotase rencana damai yang sempat diapungkan oleh Donald Trump. Versi mereka, Hamas sudah melunasi janji di fase pertama—termasuk pembebasan tawanan—namun Israel dituduh ingkar dalam urusan bantuan kemanusiaan dan penghentian operasi militer. Kepercayaan pun lumat, berganti curiga yang kian pekat.

Analis politik Ahmad Al-Hila menyebut, upaya Israel menyalakan kembali mesin perang di Gaza tak semudah membalik telapak tangan. “Israel masih terengah-engah secara militer di Lebanon Selatan,” ujarnya kepada Al Jazeera. Belum lagi urusan Washington dan Teheran yang buntu, kian menambah keruh suasana.

Al-Hila juga mewanti-wanti, jika perang kembali pecah, inisiatif “Majelis Perdamaian” yang digadang-gadang Trump secara pribadi bisa langsung tamat. Maka, bocoran mengenai rencana serangan ke Gaza ini diduga kuat hanyalah alat pemukul dalam negosiasi di Kairo—sebuah taktik untuk memeras konsesi dari pihak Palestina di tengah keseimbangan kawasan yang kian rapuh.

Netanyahu dan Kalkulasi Takhta

Jika ada orang yang paling berkepentingan agar api perang tetap menyala, dia adalah Benyamin Netanyahu. Pengamat melihat Netanyahu butuh status “perang terus-menerus” bukan sekadar demi ambisi militer, tapi demi kelangsungan karier politiknya. Perang adalah perisai paling ampuh bagi Netanyahu untuk meredam gelombang kritik dan tekanan domestik yang ingin mendongkelnya dari kursi kekuasaan.

Strategi yang dimainkan sekarang adalah “tekanan jangka panjang”. Alih-alih serangan besar yang gegap gempita, Israel cenderung memilih pola pembunuhan tertarget, pemboman sporadis, hingga perluasan zona penyangga.

Di lapangan, tentara Israel dilaporkan telah memperluas cengkeraman mereka dengan menggeser “Garis Kuning”—batas wilayah kendali militer—lebih jauh ke dalam jantung Gaza. Praktik pencaplokan pelan tapi pasti ini membuat warga Palestina kian terpojok di lahan yang kian menyempit.

Kini, Gaza terperangkap dalam kebuntuan yang melelahkan. Antara ancaman serangan baru dan kemacetan politik, nasib jutaan warga sipil di sana hanya menjadi catatan kaki dari sebuah pertaruhan besar para penguasa di Tel Aviv. Di Gaza, damai masih merupakan barang mewah yang belum mampu dibeli oleh diplomasi mana pun.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Al Jazeera dan sumber-sumber intelijen terbuka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here