Upaya menembus blokade Jalur Gaza kembali dilakukan. Pada Ahad (12/4), para penyelenggara Global Sumud Flotilla melepas armada kemanusiaan dari Barcelona, Spanyol, setelah menggelar konferensi pers yang menegaskan misi mereka sebagai aksi “kemanusiaan dan moral” di tengah krisis berkepanjangan di Gaza.

Sekitar 1.000 relawan dari 70 negara dilaporkan ikut serta dalam pelayaran ini, menggunakan sekitar 70 kapal. Armada tersebut dijadwalkan menempuh perjalanan selama dua pekan melintasi Laut Mediterania sebelum mencapai perairan Gaza, melalui rute yang telah ditentukan.

Penyelenggara menyebut inisiatif ini merupakan hasil kerja sama panjang dengan sejumlah universitas di kawasan Catalunya, yang selama ini aktif menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Dukungan publik di Barcelona dan wilayah sekitarnya juga disebut menjadi salah satu faktor pendorong keberangkatan misi ini.

Suara Peserta: Dari Pengalaman Pribadi hingga Kritik Global

Dalam konferensi pers, sejumlah peserta menyampaikan alasan keterlibatan mereka. Aktivis Palestina, Susan Abdullah, yang kini bermukim di Norwegia, mengatakan keikutsertaannya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman keluarganya sejak peristiwa 1948 hingga konflik yang terus berulang di Gaza.

Ia mengaku pernah mengalami langsung pengungsian, pemboman, dan ketidakpastian hidup. Menurutnya, kondisi di Gaza hari ini bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari rangkaian panjang penderitaan yang belum berakhir.

“Meski dalam kondisi sulit, warga Gaza tetap saling menguatkan. Kami ingin menyampaikan bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.

Pernyataan serupa datang dari Sumayya, seorang guru asal Turki keturunan Jerman. Ia menilai apa yang terjadi di Gaza tidak bisa lagi diabaikan. “Saya tidak ingin menjadi saksi yang diam saat anak-anak kehilangan akses pendidikan dan layanan kesehatan,” katanya.

Ia juga menyoroti peran sejumlah negara Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, yang menurutnya masih memasok senjata ke Israel. Sumayya mendesak penghentian dukungan tersebut dan menyerukan tekanan publik yang lebih luas.

Dorongan Aksi Global

Dari Indonesia, seorang aktivis bernama Maryam menyatakan telah menempuh perjalanan jauh untuk ikut serta dalam misi ini. Ia menilai solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari komitmen panjang, tetapi menilai langkah pemerintah di berbagai negara belum cukup.

“Diplomasi formal tidak lagi memadai. Dibutuhkan tekanan dari masyarakat sipil secara global,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan organisasi lingkungan Greenpeace di Spanyol dan Portugal menyoroti dampak konflik terhadap lingkungan. Menurutnya, kerusakan di Gaza tidak hanya menyangkut aspek kemanusiaan, tetapi juga ekologi, mulai dari hancurnya lahan pertanian hingga jaringan air.

Ia menegaskan bahwa krisis lingkungan dan kemanusiaan tidak bisa dipisahkan. “Diam bukan berarti netral,” katanya.

Upaya Kedua dalam Setahun

Pelayaran ini menjadi upaya kedua dalam waktu kurang dari satu tahun. Pada September 2025, armada serupa berangkat dari Barcelona dengan 42 kapal dan ratusan relawan. Namun, seluruh kapal dicegat oleh angkatan laut Israel sebelum mencapai Gaza, dan para aktivis yang terlibat ditahan lalu dipulangkan ke negara masing-masing.

Kali ini, jumlah peserta dan armada meningkat. Para penyelenggara berharap tekanan internasional yang lebih besar dapat memberi ruang bagi misi ini untuk mencapai tujuannya, mengirim bantuan kemanusiaan dan membuka perhatian dunia terhadap kondisi di Gaza yang masih diblokade.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here