Peningkatan serangan Israel di Gaza mencerminkan kegagalan mencapai tujuan perang. Demikian penilaian pakar militer dan strategis, Kolonel Hatim Karim Al-Falahi. Menurut dia, eskalasi terjadi karena ketiadaan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas atas pelanggaran gencatan senjata, ditambah dorongan politik dan militer di dalam negeri Israel.
Pada Rabu (4/2/2026), serangan Israel menyebabkan 20 lebih warga Palestina syahid dan sejumlah lainnya luka-luka akibat pemboman di Kota Gaza dan Khan Younis, wilayah selatan Gaza. Sumber-sumber lokal juga melaporkan operasi peledakan bangunan dan fasilitas oleh militer Israel di area yang mereka kuasai di timur lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza.
Al-Falahi menilai, absennya perangkat teknis yang bertugas memantau gencatan senjata (termasuk penentuan pihak pelanggar) memberi ruang bagi Israel untuk terus melancarkan serangan. “Tanpa pengawasan yang efektif, pelanggaran menjadi tanpa konsekuensi,” ujarnya.
Dari sisi politik, ia menyebut tekanan kuat dari kelompok sayap kanan ekstrem di Israel untuk menggagalkan transisi ke fase kedua perjanjian gencatan senjata, bahkan merobohkan kesepakatan sejak awal. Dorongan ini, kata dia, berkelindan dengan kalkulasi militer yang belum terpenuhi.
Secara militer, Israel menilai tujuan perang belum tercapai: persenjataan Hamas belum dilucuti, jaringan terowongan belum dihancurkan, dan sejumlah pimpinan perlawanan masih berada di Gaza. Alasan-alasan inilah yang, menurut Al-Falahi, digunakan Israel untuk membenarkan kelanjutan pemboman di berbagai wilayah Gaza.
Ia menambahkan, data organisasi PBB menunjukkan pelanggaran Israel terhadap gencatan senjata telah melampaui 1.350 kasus, dengan korban lebih dari 524 orang syahid dan sekitar 1.400 luka-luka sejak gencatan senjata diberlakukan.
Al-Falahi juga menyoroti pola serangan yang dinilainya disengaja, sistematis, dan berkelanjutan. Pemboman terhadap tenda-tenda pengungsi, kata dia, terkait langsung dengan tujuan strategis Israel untuk meningkatkan tekanan dan mendorong pengusiran warga Palestina dari Gaza. Serangan tersebut, lanjutnya, terjadi merata, dari wilayah utara hingga Khan Younis di selatan.
Sumber: Al Jazeera










