Gelombang kedua warga Palestina yang hendak kembali ke Jalur Gaza tiba di sisi Mesir dari Gerbang Rafah. Namun hingga kini, mereka masih tertahan sambil menunggu izin masuk ke wilayah Gaza. Situasi ini terjadi pada hari kedua pembukaan kembali Rafah secara terbatas, di tengah pembatasan ketat yang terus diberlakukan Israel.

Di saat yang sama, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan rencana keberangkatan 16 pasien bersama 40 pendamping menuju Rafah untuk menjalani perawatan medis di luar Gaza. Namun belum ada kepastian apakah rombongan tersebut berhasil menyeberang ke wilayah Mesir, menyusul minimnya informasi dari sisi Palestina yang sepenuhnya dikuasai Israel sejak Mei 2024.

Palang Merah Bulan Sabit Palestina (PRCS) menyebut Israel kembali menghambat evakuasi medis. Pada Selasa (3/2/2026), Israel menolak keberangkatan 29 pasien dan 50 pendamping dari total 45 pasien dan 90 pendamping yang sebelumnya dijadwalkan keluar Gaza untuk melanjutkan pengobatan. Padahal, pihak PRCS mengaku telah menerima pemberitahuan lebih awal dari otoritas terkait mengenai pengaturan perjalanan tersebut.

Krisis Medis Kian Mendesak

Direktur Media PRCS, Raed Al-Nems, menegaskan harapannya agar jumlah pasien yang dievakuasi ke luar Gaza dapat ditingkatkan. Ia menyebut sekitar 20 ribu pasien di Gaza tidak memiliki akses pengobatan memadai di dalam wilayah tersebut dan sangat membutuhkan perawatan di luar negeri.

PRCS, kata Al-Nems, terus melakukan koordinasi intensif dengan lembaga lokal dan organisasi internasional demi memastikan sebanyak mungkin pasien kritis dapat dievakuasi.

Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Gaza melaporkan bahwa pada hari pertama pembukaan Rafah secara terbatas, hanya delapan pasien dan pendamping yang berhasil keluar dari Gaza, sementara 12 warga Palestina diperbolehkan kembali ke wilayah tersebut, jauh dari skema awal yang disepakati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengungkapkan bahwa lebih dari 18.500 pasien di Gaza membutuhkan perawatan medis spesialis yang saat ini tidak tersedia. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan urgensi rehabilitasi dan pembangunan kembali sistem kesehatan Gaza agar ketergantungan pada evakuasi medis dapat dikurangi, setelah lebih dari dua tahun serangan Israel terus berlangsung.

Tekanan terhadap Israel Menguat

Direktur RS Al-Shifa menegaskan bahwa solusi krisis kesehatan Gaza bukan semata dengan mengeluarkan pasien dari wilayah tersebut, melainkan dengan membuka akses obat-obatan dan layanan medis ke Gaza.

Sementara itu, Hamas menilai perlakuan terhadap warga yang kembali melalui Rafah sebagai kejahatan, serta mendesak para mediator dan negara penjamin untuk segera bertindak menghentikan praktik tersebut. Hamas juga menegaskan bahwa tidak ada perbaikan signifikan dalam arus masuk bantuan kemanusiaan, meski perjanjian penghentian perang telah memasuki fase kedua.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menambahkan bahwa memburuknya cuaca akibat datangnya sistem tekanan rendah baru semakin memperparah kondisi pengungsi di tenda-tenda, diperparah oleh pembatasan ketat masuknya bahan bakar dan gas.

Gerbang Rafah mulai kembali dioperasikan secara terbatas pada 2 Februari 2026, untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun ditutup. Berdasarkan kesepakatan, seharusnya 50 warga Palestina kembali ke Gaza dan 50 pasien keluar menuju Mesir pada hari pertama, namun realisasinya jauh dari target.

Serangan Berlanjut, Korban Terus Berjatuhan

Di sisi lain, Kompleks Medis Nasser melaporkan dua warga Palestina Syahid akibat serangan Israel yang menghantam tenda pengungsian di luar area pendudukan, selatan Khan Younis.

Sumber medis juga mengonfirmasi Syahidnya seorang dokter, Intisar Shamlakh, setelah ditembak pesawat nirawak Israel di kawasan Al-Shawa, Distrik Al-Tuffah, timur laut Gaza. Korban diketahui bekerja di organisasi LSM Medical Relief di Gaza. Saksi mata menyebutkan tembakan intensif juga menghantam rumah-rumah warga di sekitar lokasi.

Seorang pemuda, Ahmed Abdel Aal (19), juga dinyatakan Syahid akibat luka parah yang dideritanya setelah serangan Israel menghantam tenda keluarganya di Al-Mawasi, Khan Younis. Serangan tersebut sebelumnya menewaskan tujuh anggota keluarganya, termasuk anak-anak.

Sementara itu, militer Israel dilaporkan kembali melakukan peledakan bangunan di wilayah timur Distrik Al-Tuffah, Gaza City.

Hingga kini, jumlah korban agresi Israel di Jalur Gaza telah mencapai 71.803 orang Syahid dan 171.570 luka-luka sejak 7 Oktober 2023. Sejak perjanjian berlaku pada Oktober lalu, sedikitnya 526 warga Palestina Syahid dan 1.447 lainnya terluka akibat pelanggaran harian yang terus dilakukan Israel.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here