Otoritas Nasional untuk Aksi Rakyat Palestina menegaskan bahwa rakyat Palestina tengah berada dalam konfrontasi terbuka dengan pendudukan Israel, yang terus melanjutkan agresinya di Gaza sekaligus meningkatkan serangan melalui permukiman ilegal, penggerebekan, dan penangkapan di Tepi Barat serta Al-Quds.
Dalam pernyataan resmi memperingati Hari Internasional Solidaritas bersama Rakyat Palestina, lembaga tersebut menekankan bahwa apa yang menimpa bangsa Palestina hari ini bukanlah peristiwa terpisah, melainkan kelanjutan dari proyek kolonial yang menargetkan tanah, identitas, dan situs-situs suci mereka.
Mereka menegaskan bahwa perlawanan, keteguhan, dan aksi rakyat menjadi jalan utama untuk mengakhiri pendudukan. Kesatuan rakyat Palestina (di Gaza, Tepi Barat, Al-Quds, wilayah 1948, maupun di pengungsian) menjadi sumber kekuatan dalam perjuangan pembebasan.
Lembaga itu juga menyerukan rekonstruksi kerangka organisasi nasional yang berlandaskan kemitraan, demokrasi, dan perluasan partisipasi publik, agar keputusan strategis bangsa kembali berada di tangan rakyat sebagai pemilik legitimasi sesungguhnya.
Peringatan Hari Solidaritas Palestina yang jatuh setiap 29 November (ditetapkan PBB sejak 1977) tahun ini berlangsung dalam bayang-bayang dua tahun perang Israel di Gaza. Agresi tersebut telah menewaskan lebih dari 69 ribu warga Palestina dan melukai sekitar 171 ribu lainnya, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta meninggalkan kehancuran masif dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.
Sumber: Al Jazeera










