GAZA — Agresi militer Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa. Perjanjian gencatan senjata yang diklaim sedang berjalan sejak 10 Oktober 2025 lagi-lagi hancur di lapangan. Sembilan warga Palestina, termasuk anak-anak, dilaporkan syahid dan belasan lainnya luka-luka akibat rentetan serangan udara terbaru yang membabi buta, Kamis (4/6/2026).
Sumber medis di Rumah Sakit Asy-Syifa Gaza mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa sembilan korban jiwa tersebut dievakuasi dari reruntuhan bangunan setelah jet tempur Israel menyasar langsung empat apartemen hunian warga di jantung Kota Gaza.
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas
Serangan berdarah ini melengkapi rentetan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Israel. Sehari sebelumnya, Rabu (3/6), empat warga Palestina—termasuk seorang wanita—juga gugur akibat gempuran pasukan pendudukan.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, sebuah pesawat tanpa awak (drone) milik Israel melepaskan rudal ke arah sebuah rumah di kamp pengungsi Al-Maghazi, Jalur Gaza tengah. Serangan ini menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya. Di saat yang hampir bersamaan, hantaman rudal dari drone Israel lainnya di wilayah Al-Mughraqa juga merenggut nyawa seorang pemuda Palestina.
Sementara itu dari wilayah selatan, Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mengumumkan seorang wanita Palestina mengembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal akibat luka parah setelah sempat bertahan pasca-pengeboman hebat yang menerjang kawasan pengungsian Mawasi, Khan Younis, beberapa waktu lalu.
Bumi Gaza Diguncang Ledakan Tak Berhenti
Aksi pemboman udara ini berjalan beriringan dengan operasi darat militer Israel yang kian destruktif. Di zona-zona yang mereka duduki, baik di utara maupun selatan Jalur Gaza, tentara Israel secara masif melakukan peledakan sengaja (demolition) untuk meratakan bangunan-bangunan yang tersisa.
Laporan saksi mata di Khan Younis menyebutkan, setidaknya ada 10 operasi penghancuran gedung dan fasilitas publik yang diledakkan paksa oleh militer Israel di wilayah timur kota tersebut. Suara ledakan dahsyat yang menggetarkan tanah juga dilaporkan terdengar di distrik-distrik bagian timur Kota Gaza, di mana tentara Israel melakukan dua operasi penghancuran skala besar.
Tragedi Kemanusiaan Terburuk Abad Ini
Genosida di Jalur Gaza yang dimulai sejak 8 Oktober 2023 dengan sokongan penuh pasokan senjata dari Amerika Serikat, kini telah memasuki tahun ketiga. Perang pemusnahan massal ini telah menelan korban sedikitnya 73 ribu jiwa warga Palestina gugur dan sekitar 173 ribu lainnya luka-luka—di mana mayoritas mutlak korbannya adalah anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu, sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza kini telah rata dengan tanah.
Meski status formal wilayah ini disebut-sebut berada dalam masa gencatan senjata sejak akhir tahun lalu, realitas di atas tanah Gaza justru berbicara sebaliknya. Israel terus mencekik pasokan bantuan kemanusiaan global dan merawat konflik lewat pengeboman harian.
Data lokal mencatat, sejak gencatan senjata dideklarasikan pada Oktober 2025, sedikitnya 936 warga Palestina justru tewas menyusul dan 2.903 lainnya terluka di bawah bayang-bayang kedamaian palsu. Bagi warga Gaza, desing mesin pembunuh Israel di langit malam adalah penanda nyata bahwa perang ini belum benar-benar usai.










