Bukan bantuan medis atau bahan pangan yang menyambut para aktivis di perairan internasional, melainkan popor senapan dan intimidasi fisik. Kesaksian terbaru mengungkap sisi gelap penahanan aktivis Global Sumud Flotilla (GSF), dari kekerasan seksual hingga penyiksaan yang melampaui batas kemanusiaan.
Yusuf Ajisa, Ketua Komite Internasional untuk Memutus Pengepungan Gaza, membuka tabir kengerian yang dialami para aktivis kemanusiaan saat kapalnya dibajak militer Israel di lepas pantai Yunani. Testimoni yang dikumpulkan dari mereka yang telah dibebaskan melukiskan potret brutalitas yang jauh dari norma hukum internasional.
Ajisa mengungkapkan bahwa para relawan tidak hanya diculik, tetapi juga menjadi sasaran kekerasan sistematis. “Ada laporan tentang kekerasan seksual, pemukulan, penyeretan paksa, hingga mata yang ditutup dan tangan yang diborgol selama berhari-hari,” ujarnya dalam keterangan pers Jumat lalu.
Yang paling mengejutkan adalah pengakuan adanya pelecehan seksual dan serangan sengaja terhadap organ vital korban. “Ini bukan sekadar penahanan, ini adalah serangan telanjang terhadap martabat manusia,” tegas Ajisa.
Standar Ganda dan Keheningan Dunia
Ajisa menyuarakan kegeramannya atas apa yang ia sebut sebagai “reaksi dingin” dunia internasional, terutama Uni Eropa. Baginya, bungkamnya para pemimpin dunia atas serangan di perairan internasional ini adalah lampu hijau bagi Israel untuk terus bertindak tanpa hukum.
“Jika para aktivis dari berbagai kewarganegaraan internasional saja diperlakukan sekeji ini, bayangkan apa yang dialami rakyat di Gaza dan Tepi Barat setiap harinya?” gugatnya. Ia mendesak agar sanksi internasional segera dijatuhkan sebagai satu-satunya cara menghentikan impunitas ini.
Mogok Makan dan Jeruji Ilegal
Fokus utama kini tertuju pada nasib dua aktivis yang masih mendekam di sel isolasi: Saif Abu Kishk dan Tiago Avila. Keduanya dilaporkan sedang melakukan aksi mogok makan sebagai protes atas penahanan sepihak yang telah berlangsung selama berhari-hari.
Rania Betris, juru bicara armada, mengungkapkan kondisi memprihatinkan rekan-rekannya. “Tiago dan Abu Kishk mengalami penyiksaan. Bahkan saat menjalani pemeriksaan medis pun mata mereka tetap ditutup. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang sangat nyata,” tutur Betris.
Kronologi Pengadangan: Angka di Balik Aksi
- Kejadian: 29 April 2026.
- Lokasi: Perairan internasional dekat Pulau Kreta.
- Peserta: 345 peserta dari 39 negara.
- Armada: 21 perahu ditahan oleh militer Israel bersama sekitar 175 aktivis di dalamnya. Sisanya berhasil melanjutkan pelayaran menuju perairan Yunani.
Ini merupakan upaya kedua dari “Freedom Flotilla” global. Upaya pertama pada September 2025 juga berakhir dengan drama pembajakan di laut lepas dan penangkapan ratusan relawan internasional.
Layar Tetap Terkembang ke Marmaris

Meski dihantam intimidasi, semangat armada ini tak padam. Saat ini, sisa perahu sedang bergerak dari Yunani menuju Marmaris, Turki. Di sana, sebuah pertemuan internasional besar akan digelar, melibatkan lebih dari 30 kapal pendukung untuk merancang langkah berikutnya dalam menembus blokade Gaza yang telah mencekik wilayah itu sejak 2007.
Bagi para aktivis ini, pelayaran mereka bukan sekadar mengantar logistik. Ini adalah pernyataan politik bahwa blokade Gaza—yang telah membuat 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal—harus diakhiri. Meski risiko “penyiksaan dan penyeretan” membayang, geladak perahu-perahu ini tetap menjadi mimbar perlawanan terakhir bagi kemanusiaan di laut lepas.
Sumber: Anadolu Agency









