Di dalam sel-sel sempit itu, datangnya 1 Ramadan bukan sekadar penanggalan. Ia adalah pengingat paling getir tentang jarak yang memisahkan para tahanan Palestina dari dunia yang mereka tinggalkan, meja-meja berbuka yang hangat, masjid yang bercahaya, keluarga yang berkumpul. Di balik jeruji, yang tersisa hanyalah ruang tertutup, pengawasan tanpa jeda, dan sunyi yang merampas denyut spiritual paling dasar.

Sejumlah pengacara kepada Al Jazeera mengungkapkan, banyak tahanan bahkan tidak mengetahui kapan Ramadan dimulai. Mereka tidak diberi informasi waktu imsak dan berbuka. Waktu menjadi kabur; kepastian lenyap.

Mantan tahanan Imad al-Ifranji menggambarkan bagaimana para napi hanya bisa memperkirakan hari dan jam secara kolektif, mengandalkan firasat, cahaya redup dari jendela kecil, atau bayangan yang merayap di lantai sel.

Penentuan waktu salat pun dilakukan dengan cara paling purba: membaca arah matahari dan panjang bayangan. Fajar adalah yang paling sulit, tanpa cahaya, banyak yang memilih makan sebelum tidur atau bahkan menahan diri dari sahur karena takut keliru. Mereka terputus total dari kalender; tanggal dan tahun hanya diketahui lewat sidang pengadilan, kunjungan pengacara, atau kabar dari tahanan baru.

Lapar sebagai Tekanan

Para mantan tahanan sepakat: kelaparan kerap dijadikan alat tekanan. Di bulan Ramadan, praktik itu terasa lebih menyakitkan. Waktu sahur dan berbuka kerap diulur atau dimajukan secara sengaja. Makanan diletakkan ketika siang belum usai, memaksa mereka makan sebelum waktunya. Penolakan berujung kekerasan. Sebagian memilih bertahan sambil berbisik ayat tentang keterpaksaan, sebuah cara menjaga iman di tengah intimidasi.

Kualitas makanan pun jauh dari layak. Ada yang dibagikan berjam-jam setelah disiapkan, terbuka, basah, bahkan terinjak. Mantan tahanan lain menceritakan bagaimana aroma daging sengaja dipanggang di depan sel untuk menggoda mereka yang berbulan-bulan tak menyentuh protein. Dalam ruang interogasi, rasa lapar disebut kerap dimanfaatkan untuk menekan pengakuan.

Di momen berbuka, pertanyaan paling sunyi justru menyentuh rumah: apakah keluarga mereka makan malam ini? Siapa yang lebih membutuhkan doa? Bahkan menjelang azan, penggerebekan mendadak kerap dilakukan—seolah tak ingin menyisakan jeda damai sedikit pun.

Menurut Amani Sarahneh dari Klub Tahanan Palestina, kesaksian itu bukan kisah tunggal. Banyak tahanan praktis menjalani “puasa paksa” karena jatah makan yang minim dan buruk. Sahur hanya beberapa suap selai, labneh, dan sepotong roti. Berbuka dengan nasi setengah matang dan kuah encer. Di beberapa penjara, Al-Qur’an bahkan tidak tersedia; jika ada, satu mushaf dipakai bergantian puluhan orang dan kerap disita saat razia.

Ibadah dalam Bayang-Bayang Kamera

Di sejumlah fasilitas seperti Penjara Sde Teiman, salat disebut bisa berujung hukuman. Gerakan kecil atau bibir yang bergetar dalam doa cukup untuk menyeret seseorang dan memukulnya. Wudu dilarang, mushaf dibatasi, ibadah dilakukan diam-diam (di bawah selimut, di kamar mandi, atau hanya dengan lirih di dalam hati) sementara kamera mengawasi setiap gerak.

Salat berjamaah dan azan dilarang. Jika ingin mendirikan Jumat, mereka melakukannya dengan siasat: khutbah disampaikan nyaris tanpa suara, para tahanan berpencar agar tak tampak berkumpul, sebuah koreografi sunyi untuk mengelabui pengawasan.

Ramadan, kata al-Ifranji, sering berubah menjadi “musim represi”, terutama saat Tarawih dan Qiyamul Lail. Gas air mata, pemisahan sel, hingga intimidasi menjadi bagian dari keseharian.

Namun di tengah tekanan itu, ibadah justru menjadi jangkar terakhir. Ia adalah ruang merdeka yang tak sepenuhnya bisa dirampas. Ada kisah ketika tentara bersenjata lengkap menyerbu sel saat para tahanan tengah larut dalam salat dan tangis; sejenak mereka terpaku, seolah berhadapan dengan sesuatu yang tak bisa disentuh senjata.

Pengacara Khaled Zabarqa menegaskan, praktik-praktik tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap norma internasional dan hak asasi manusia. Ramadan, alih-alih dihormati, disebut kerap diperlakukan sebagai kesempatan memperketat hukuman, melalui pembatasan hak dasar, pengabaian medis, dan tekanan sistematis.

Di balik semua itu, para tahanan terus bertahan. Setiap rakaat yang mereka tegakkan adalah bentuk perlawanan paling hening, sebuah penegasan bahwa iman, meski dibatasi tembok dan kawat berduri, tetap menemukan jalannya untuk bernapas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here