Jalur Gaza—Badai pasir dan debu menyapu wilayah Jalur Gaza. Badai itu menghantam tenda-tenda rapuh yang menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi warga Palestina yang terusir dari rumah mereka. Rumah-rumah itu hancur selama dua tahun serangan militer Israel. Kini, bukan hanya perang yang mereka hadapi, tetapi juga amukan alam yang memperparah luka lama.

Otoritas meteorologi Palestina memperingatkan angin kencang disertai debu akan berembus sepanjang hari, sementara gelombang laut meninggi dan cuaca memburuk. Pengamat cuaca Palestina, Laits Al-Alami, melalui akun Facebook-nya, menyebut badai pasir berskala luas bergerak dari pesisir utara Libya dan Mesir menuju timur, mencapai wilayah Palestina dalam hitungan jam. Sehari sebelumnya, ia telah mengingatkan tentang dorongan massa debu dari gurun Afrika Timur Laut yang akan melintasi kawasan ini sejak siang hingga malam.

Di lapangan, situasinya jauh dari sekadar data meteorologi. Koresponden kantor berita Anadolu Agency melaporkan atmosfer Gaza dipenuhi debu pekat. Partikel pasir menembus celah-celah tenda koyak, mengendap di alas tidur, makanan, dan paru-paru para pengungsi. Tenda darurat itu tak dirancang menghadapi cuaca ekstrem, apalagi badai berulang.

Para pengungsi, terutama penderita penyakit pernapasan kronis, menyuarakan kekhawatiran akan komplikasi kesehatan. Tanpa perlindungan memadai dan fasilitas keselamatan dasar, badai ini bukan sekadar gangguan cuaca, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan mereka. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan angin kencang mengguncang tenda dan pepohonan di sekitarnya, nyaris merobohkannya.

Sejak Desember lalu, Gaza telah diterpa sejumlah sistem tekanan rendah yang menerbangkan, menenggelamkan, dan merusak puluhan ribu tenda. Bangunan-bangunan yang sebelumnya rusak akibat pemboman kembali runtuh, menewaskan dan melukai puluhan warga Palestina.

Krisis ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata yang secara formal mengakhiri perang besar yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Namun, kondisi kemanusiaan tak kunjung membaik. Israel dituding belum memenuhi komitmennya dalam perjanjian tersebut, termasuk membuka akses masuk bagi bahan-bahan hunian darurat (tenda dan rumah portabel) serta material untuk membangun kembali infrastruktur vital, jaringan air, dan sanitasi.

Perang dua tahun itu meninggalkan lebih dari 72 ribu warga Palestina syahid dan lebih dari 171 ribu terluka, dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.

Badai pasir ini mungkin bersifat musiman. Namun bagi ratusan ribu pengungsi di Gaza, ia menjadi simbol getir: bahkan setelah dentuman senjata mereda, ancaman terhadap hidup mereka belum benar-benar berlalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here