Tiga warga Palestina, termasuk seorang anak, syahid akibat tembakan pasukan pendudukan Israel di Jalur Gaza, Ahad. Insiden ini kembali menegaskan rapuhnya perjanjian gencatan senjata yang secara resmi berlaku sejak 10 Oktober lalu, namun terus dilanggar hampir setiap hari.
Sumber di Rumah Sakit Baptis (Al-Ma’madani) melaporkan, seorang anak syahid ditembak pasukan Israel di kawasan Zaitoun, tenggara Kota Gaza. Peristiwa itu menjadi pelanggaran terbaru dalam rangkaian kekerasan bersenjata yang terjadi di bawah payung gencatan senjata.
Sebelumnya, Salem Ruhi Al-Sous (33 tahun) syahid akibat ledakan bom Israel di Beit Lahia, Gaza utara. Dalam kejadian yang sama, Nabil Hassan Al-Sous (18 tahun) mengalami luka-luka. Sementara di wilayah tengah Gaza, Naseem Abu Al-Ajeen (20 tahun) syahid setelah ditembak pasukan Israel di timur Deir Al-Balah.
Di selatan Jalur Gaza, militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke Kota Rafah. Serangan lain menghantam wilayah timur Khan Younis, termasuk sasaran vital berupa tangki air, yang kian memperparah krisis air bersih di berbagai kawasan Gaza.
Sejak dini hari, pasukan Israel juga menggempur sejumlah titik di Jalur Gaza melalui serangan udara dan tembakan artileri, terutama di wilayah-wilayah yang masih berada di bawah kendali militer mereka.
Pasien Dibiarkan Mati Perlahan
Eskalasi kekerasan ini terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi ribuan pasien di Gaza. Kekurangan akut obat-obatan, peralatan medis dasar, serta minimnya tenaga kesehatan spesialis membuat sistem layanan kesehatan berada di ambang kolaps.
Situasi diperparah oleh pembatasan ketat Israel terhadap izin perjalanan pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, lebih dari 1.200 pasien wafat selama menunggu izin keluar untuk berobat.
Rumah-rumah sakit Gaza kini beroperasi dalam kondisi darurat berlapis (kekurangan suplai, tekanan serangan, dan lonjakan korban) seraya berjuang dengan sumber daya yang nyaris habis untuk mempertahankan layanan paling dasar.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, militer Israel tercatat melakukan ratusan pelanggaran, yang mengakibatkan 576 warga Palestina syahid dan 1.543 lainnya luka-luka.
Gencatan senjata, dalam praktiknya, berubah menjadi istilah administratif belaka, sementara kematian terus berlangsung, satu nyawa demi satu nyawa.
Sumber: Al Jazeera










