Upaya internasional untuk menembus blokade Gaza kembali disiapkan. Panitia Armada Global Sumud Flotilla (inisiatif lintas negara untuk mematahkan blokade Israel atas Gaza) mengumumkan jadwal pelayaran berikutnya, sekaligus membuka peta perlawanan kemanusiaan yang akan bergerak serentak lewat laut dan darat.

Dalam konferensi pers di Johannesburg, Afrika Selatan, Kamis (5/2/2026), panitia menyatakan armada akan mulai berlayar pada 29 Maret mendatang. Titik keberangkatan utama ditetapkan di Barcelona, Spanyol, bersama sejumlah pelabuhan lain di kawasan Laut Tengah, dengan tujuan langsung ke Gaza.

Tak hanya lewat jalur laut, panitia juga mengungkap rencana pengiriman dua konvoi darat dari Afrika Utara dan Asia pada bulan yang sama. Konvoi ini akan membawa bantuan medis dan pangan, dua kebutuhan paling mendesak di Gaza yang hingga kini masih dicekik pembatasan ketat Israel.

Para penyelenggara menargetkan armada kali ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah gerakan tersebut. Lebih dari 100 kapal direncanakan berlayar, mengangkut ribuan aktivis dari berbagai negara. Di dalamnya, tercatat lebih dari seribu dokter, pakar lingkungan dan kesehatan, serta penyelidik kejahatan perang akan terlibat langsung dalam misi ini.

Panitia menyerukan partisipasi global. “Kami mengundang masyarakat dari semua negara dan lintas profesi (dokter, insinyur, hingga relawan kemanusiaan) untuk bergabung dalam konvoi darat yang akan bergerak bersamaan dengan armada laut,” ujar mereka.

Menyikapi ancaman Israel terhadap armada, penyelenggara tak menampik risikonya. Namun mereka menilai ancaman itu tak sebanding dengan penderitaan yang dialami anak-anak Gaza dan rakyat Palestina selama delapan dekade di bawah sistem yang mereka sebut sebagai apartheid. Mereka mendesak komunitas internasional untuk menegakkan hukum internasional dan mencegah segala bentuk serangan terhadap armada sipil tersebut.

Menurut panitia, skala penderitaan di Gaza nyaris tak terbayangkan, terutama bagi ribuan pasien dan korban luka yang menunggu kesempatan keluar demi mendapatkan perawatan medis, sementara warga yang kembali ke Gaza justru menghadapi pemeriksaan dan intimidasi otoritas pendudukan.

Panitia Armada Global Sumud Flotilla menegaskan, dunia tak lagi bisa bersikap netral. Mereka menyerukan langkah nyata internasional untuk menghentikan genosida dan mendukung hak rakyat Palestina atas kebebasan. Palestina, kata mereka, kini menjelma simbol keteguhan melawan penindasan dan sumber inspirasi perjuangan global untuk keadilan.

“Ini saatnya kemanusiaan melawan genosida dan proyek kolonial,” tegas panitia. Mereka menuding Israel secara sengaja membiarkan anak-anak Gaza kelaparan hingga mati, sebuah ironi pahit bagi negara yang kerap mengklaim diri sebagai demokrasi paling maju di Timur Tengah.

Ancaman itu bukan isapan jempol. Pada Oktober lalu, kapal-kapal angkatan laut Israel menyerang puluhan perahu Armada Global Sumud Flotilla yang berlayar di perairan internasional menuju Gaza. Seluruh kapal disita, ratusan aktivis internasional ditangkap, dan misi kemanusiaan dipaksa berhenti di tengah laut.

Namun kali ini, pesan yang dibawa armada itu jelas: blokade bukan sekadar kebijakan keamanan, melainkan luka terbuka kemanusiaan, dan dunia sedang diuji, apakah memilih diam atau berlayar melawannya.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here