Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat lebih dari 550 warga Syahid dan sedikitnya 1.500 lainnya mengalami luka sejak gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza. Angka ini menegaskan bahwa kekerasan bersenjata masih terus berlangsung, meski secara politik disebut sebagai masa jeda konflik.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, menyebut serangan Israel yang berlanjut hingga Rabu (4/2/2026) telah menyebabkan 21 warga Palestina Syahid, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia. Sedikitnya 12 orang lainnya terluka dalam serangan yang terjadi di Kota Gaza dan Khan Younis, wilayah selatan Jalur Gaza.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Al-Bursh menyebut Israel secara sistematis membangun narasi sepihak untuk membenarkan tindakannya. “Pendudukan Israel memalsukan fakta dan menyiapkan cerita sejak awal, lalu tampil di hadapan dunia sebagai korban, padahal dunia tidak melihat adanya korban dari pihak tentara pendudukan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti krisis kesehatan yang kian memburuk akibat pembatasan ketat Israel. Lebih dari 51 persen obat-obatan esensial saat ini tidak tersedia di Gaza, disusul 72 persen alat kesehatan yang juga mengalami kelangkaan. Selain itu, lebih dari 11 ribu pasien kanker kini terputus dari akses pengobatan, termasuk sekitar 4 ribu pasien yang seharusnya dirujuk ke Mesir.

“Israel menolak mengeluarkan mereka dengan dalih Organisasi Kesehatan Dunia belum menyerahkan nama-nama pasien, padahal kenyataannya akses medis sengaja diblokir,” kata Al-Bursh.

Sementara itu, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mayor Mahmoud Bassal, menyatakan sejak dini hari tentara Israel secara langsung menargetkan warga sipil dan keluarga pengungsi di wilayah timur Jalur Gaza. Ia menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap warga tak bersenjata.

“Kurang dari sepekan lalu, 32 warga Palestina dibunuh tanpa peringatan dan tanpa alasan yang jelas,” ujar Bassal. Ia menuduh Israel melakukan pembunuhan berbasis niat, yakni menyerang seseorang yang dianggap berbahaya tanpa proses verifikasi apa pun.

Menurut Bassal, tidak ada perubahan situasi di lapangan. Eskalasi terus berlanjut dengan dalih yang ia sebut tidak berdasar. “Perang tidak pernah benar-benar berhenti. Pembunuhan terhadap warga berlangsung secara sistematis,” katanya.

Situasi Kesehatan di Ambang Kolaps

Kondisi serupa disampaikan Direktur Layanan Ambulans dan Gawat Darurat Gaza, Dr. Fares Afana. Ia menegaskan sistem kesehatan di Gaza telah mencapai level katastrofik di tengah serangan Israel yang tak kunjung berhenti, meski hanya dibungkus istilah “gencatan senjata rapuh.”

Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, Afana mengatakan rumah sakit menerima banyak korban luka berat akibat serangan artileri, serpihan peluru, dan tembakan penembak jitu yang menyasar rumah-rumah warga di timur kawasan Al-Tuffah. Serangan tersebut, katanya, telah menewaskan keluarga-keluarga secara utuh.

Afana juga mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen sistem ambulans di Gaza telah dihancurkan. Petugas medis kini terpaksa bekerja menggunakan kendaraan tua dan tidak layak, sementara lebih dari 100 unit ambulans baru masih tertahan di perbatasan akibat larangan masuk dari otoritas Israel.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here