Tiga warga Palestina syahid dan tujuh lainnya luka-luka akibat tembakan militer Israel di beberapa wilayah Gaza selatan, menurut sumber rumah sakit setempat. Insiden ini terjadi sementara Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menyerukan penutupan Pusat Koordinasi Militer Sipil yang dibangun AS di dekat perbatasan Gaza untuk memantau gencatan senjata.
Seorang sumber di Kompleks Medis Nasser menyebutkan, salah satu korban tewas terkena rudal Israel di luar area pasukan, di kawasan Sheikh Nasser, timur Khan Yunis, sementara korban lain tertembak di dalam area pasukan.
Selain itu, anak Palestina juga syahid akibat tembakan Israel di wilayah Mawasi Rafah, Gaza selatan, menurut laporan Layanan Ambulans dan Darurat.
Pelanggaran Gencatan Senjata
Peristiwa ini termasuk pelanggaran harian terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2023, menyusul perang yang digambarkan sebagai kampanye genosida Israel selama dua tahun.
Menurut Anadolu Agency, pesawat tempur dan artileri Israel menyerang beberapa wilayah di timur Khan Yunis dan timur Deir al-Balah. Hingga kini, militer Israel masih menguasai lebih dari 50% wilayah Gaza, termasuk strip selatan, timur, dan sebagian besar utara, menurut data resmi militer.
Korban Perang
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan total korban perang mencapai 71.550 syahid dan 171.365 luka-luka.
Di tengah krisis ini, Prancis mengirim bantuan pangan seberat 383 ton dari pelabuhan Le Havre untuk Gaza. Bantuan ini ditujukan untuk meningkatkan kesehatan lebih dari 42.000 anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun yang menderita malnutrisi, berupa suplemen harian selama enam bulan. Bantuan akan tiba di Pelabuhan Port Said, Mesir, sebelum didistribusikan oleh Program Pangan Dunia.
Tekanan Israel untuk Tutup Pusat Koordinasi
Menteri Smotrich mendesak PM Benjamin Netanyahu menutup pusat koordinasi multinasional yang dipimpin AS di Kiryat Gat, Israel timur laut Gaza. Ia menilai negara-negara seperti Inggris dan Mesir sebagai “musuh Israel” yang melemahkan keamanan dan harus dikeluarkan dari pusat tersebut.
Pusat koordinasi ini, dibentuk Oktober lalu, bertujuan memfasilitasi perencanaan pasca-perang di Gaza, sekaligus mempercepat masuknya bantuan kemanusiaan melalui koordinasi antara petugas sipil dan militer dari berbagai negara bersama AS dan Israel.
Sumber: Al Jazeera, Anadolu Agency









